Assalaamu’alaykum Sahabat Bang Thoyyib, Dalam cuplikan Uraian Sifat Salbiyyah yang telah lalu disebutkan, bahwa sifat salbiyyah itu terdiri dari lima sifat. Dan Sifat Salbiyyah yang pertama itu adalah Sifat Qidam.

Sifat Salbiyyah yang Pertama

Kenapa sifat Qidam dijadikan yang pertama dalam sifat Salbiyyah…? Karena Sifat Qidamlah yang pertama menghilangkan sifat yang tak layak bagi Alloh Subhaanahu Wa Ta’alaa, sesuai dengan Maknanya, yaitu :

وَمَعْنٰى الْقِدَامُ هُوَ عَدَمُ الْأَوَّلِيَّةِ لِلْوُجُوْدِ

Artinya : ” Makna Qidam itu adalah pertama tanpa ada permulaannya (perintis) “.

Yakni tidak ada permulaan bagi Alloh serta Adanya itu tidak didahului oleh ketidakadaan. Lain halnya dengan kita atau Makhluk- makhluk yang lainnya, sebab kalau makhluk itu (termasuk kita) semuanya ada permulaannya serta adanya juga didahului oleh tidak ada.

Dengan demikian bisa kita tarik kesimpulan bahwa yang namanya Makhluk itu adalah sesuatu yang baru keberadaannya, dengan demikian maka Mustahil Alloh itu Dzat yang Baru. Karena kebalikan dari Sifat Qidam itu adalah Huduts ( حُدُوْث ) maknanya Baru, maka sangat Mustahil jika Alloh baru.

Sebab yang disebut dengan baru itu pasti ada permulaannya, atau didahului oleh tidak ada. Sedangkan makna Qidam menurut Lughat itu adalah Terdahulu atau Lama, atau sudah setahun atau lebih sama seperti makna dari lafadh Qodiim ( قَدِيْمٌ ) dalam Firman Alloh yang tertuang pada Surat : Yaasiin ayat 39 yang berbunyi:

 كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

Artinya : “seperti mayang yang sudah tua”.

Kutipan ayat diatas mencontohkan sifat dikala awal tanggal Hijriyyah yang terlihat yang terlihat bak seperti mayang yang sudah lama atau tua (melengkung). Atau seperti Firman Alloh yang tertuang dalam Surat Yusuf ayat 95, yang berbunyi :

إِنَّكَ لَفِيْ ضَلَالِكَ الْقَدْيْمِ

Artinya : ” sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu”.

(Keluarganya berkata) kepadanya (Demi Allah, sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu) kesalahanmu (yang dahulu) disebabkan kecintaanmu yang berlebihan terhadap Yusuf, dan harapanmu yang selalu tak padam untuk bersua kembali dengannya sekali pun sudah lama masanya.

Kata Qodim dalam dua ayat diatas itu adalah menurut Lughot (bahasa) sebab dipake untuk mensifat Makhluk tidak untuk dipakai men_sifati Dzat Alloh.

Pembagian Qidam

SIFAT SALBIYYAH YANG PERTAMA
Dahulukan adab sebelum ilmu

Sekarang mari kita melangkah lagi didalam bahasan Sifat salbiyyah yang pertama yaitu sifat Qidam, dan sifat Qidam ini terbagi menjadi dua bagian, diantaranya :

  1. Qidam Muthlaq
  2. Qidam Muqayyad

Sekarang mari kita perinci satu persatunya walaupun hanya garis besarnya saja, yang penting kita tau saja.

1. Qidam Muthlaq

Yang disebut dengan Qidam Muthlaq itu adalah Terdahulu tanpa di Qayyidan (dibatasi) oleh suatu apapun, yakni Qidamnya itu Qidam Haqiqah. Yaitu Qidamnya Alloh Subhanaahu wa Ta’alaa.

2. Qidam Muqayyad

Yang disebut dengan Qidam Muqayyad itu adalah terdahulu tapi di Qayidan (dibatasi) yakni  disebut terdahulunya itu disertai dengan adanya permulaannya (Makhluk).

Di poin no. Dua ini ada dua kategori, yaitu :

  • Qidam Haqiqi yaitu terdahulunya itu sebab yang pertama diciptakan. Tidak ada yang mendahului tapi dengan ada permulaannya sebab didahului oleh ketidak adaannya. Contohnya seperti Nur_nya Kangjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alayhi wasallam.
  • Qidam Idlofi yaitu terdahulu dengan disertai permulaan terlebih dahulu, contohnya seperti Jasad Nabiyulloh Adam ‘alayhis salaam.

Bagian – bagian dari Qidam Idlofi

Dari Qidam Idlofi ini muncullah Lima bagian yang layak untuk kita ketahui, yang Lima bagian tersebut adalah :

  1. Qidam Thab’un ( طَبْعٌ )
  2. Qidam ‘Ilat ( عِلَة ) sebab hukum
  3. Qidam Syarof ( شَرَف )
  4. Qidam Makan ( مَكَنْ )
  5. Qidam Zaman ( زَمَانْ )

Mari kita ulas lagi poin demi poin diatas , supaya dapat sedikit penerangannya.

a. Qidam Thob’un

Yang disebut dengan Qidam Thob’un itu terdahulu serta telah menjadi wataknya (Tabiatnya), Qidam Thob’un itu seperti halnya yang pertama membutuhkan pada yang kedua serta yang pertama tidak menjadi suatu ‘Ilat.

Kita ambil contoh saja supaya tidak bingung, contohnya seperti : ” Mendahuluinya Juz_جُزْ (sebagian) pada Kul_كُلْ(keseluruhan) atau mendahuluinya ucapan satu pada ucapan dua.

b. Qidam ‘Ilat

Yang disebut dengan Qidam ‘Ilat adalah yang kedua membutuhkan pada yang pertama, serta yang pertama menjadi ‘Ilat (sebab hukum) untuk yang kedua.

Contohnya seperti : ” Bergeraknya Jari mendahului pada bergeraknya cincin yang menempel pada jari tersebut yang demikian itu disebut dengan Qidam ‘Ilat.

c. Qidam Syarof

Yang disebut dengan Qidam Syarof adalah terdahulu dalam kemulyaannya, contohnya seperti  : “Mulyanya orang yang pintar daripada orang yang bodoh ( walaupun orang yang pintar itu umurnya lebih muda), maka tetaplah dia yang lebih mulia daripada yang tua tapi bodoh.

d. Qidam makaan

Yang disebut dengan Qidam Makaan adalah terdahulu pada tempatnya, dan Qidam Makaan ini biasa juga disebut dengan Qidam Rutbah. 

Untuk contoh dari Qidam Makaan yaitu seperti : ” Lebih dahulunya Imam daripada Makmum.” dalam segala hal.

e. Qidam Zaman

Dan yang terakhir adalah Qidam Zaman, Yang disebut dengan Qidam Zaman adalah terdahulu dalam waktunya.

Contoh dari Qidam zaman adalah seperti : ” Lebih dahulunya orang tua daripada anaknya.”

Nah yang harus kita garis bawahi adalah, Qidamnya Alloh itu tidak termasuk kedalam Lima kategori Qidam diatas, tapi Qidamnya Alloh itu Qidam Muthlaq atau Qidam Dzati yakni Qidam yang tidak diQayyidan oleh apapun.

Mari kita lihat tabel berikut ini :

Sifat Salbiyyah yang pertama
Sifat Qidam dan bagian- bagiannya

Setelah melihat penjelasan -penjelasan diatas, walaupun sudah laumayan jelas tapi itu belum ada kekuatan untuk memperteguh keyakinan kita jika belum menyertakan sebuah dalil dari sifat Qidam ini.

Baca juga : Pengertian Dalil

 

 

Dalil sifat Qidam

Adapun dalil yang akan dimuat disini, yaitu dalil Naqli dan dalil ‘Aqlinya. Supaya tidak ada kerancuan dalam pemahaman kita, mari sahabat Fillaah kita Dalil Naqli (al-Qurannya) sifat Qidam.

Dalil Naqlinya

Adapun Dalil Naqli dari sifat Salbiyyah yang pertama (Sifat Qidam) itu tertuang dalam Firman-Nya :

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْأٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ

Artinya : “Dia-lah yang awwal tanpa permulaan, dan Abadi (tidak ada akhirannya) dan Dhohir Wujud-Nya serta yang samar Dzat-Nya. Dan Dia-lah (Alloh) yang Maha Mengetahui segala rupa perkara.”

Nah ayat inilah yang dijadikan sebagai dalil bahwa Alloh itu yang memiliki Sifat Qidam, Sifat Baqo’ dan sifat Ilmu. Ini secara ringkasnya saja sebab jika dituangkan keseluruhan, entah kapan beresnya He.ho…

Setelah kita mengetahui secara singkat dalil Naqlinya sifat Qidam, berhubung diatas telah disebutkan bahwa yang akan jadi dalilnya itu dalil Naqli serta ‘Aqli, maka sekarang tinggal kita mengetahui dalil ‘Aqli(Akal)nya sifat Nafsiyyah yang pertama.

Dalil ‘Aklinya

Adapun dalil ‘Akli (akal) yang menunjukkan bahwasannya Alloh itu di Sifati oleh sifat Qidam adalah seperti ini :

Alloh itu Qodiim yakni yang awal tanpa permulaan, sebab jika Alloh ada permulaannya atau tidak disifati oleh sifat Qidam, maka sudah tentu  itu baru ( حَادِثٌ ), yaitu ada permulaannya.Sebab jika suatu perkara tidak Qidam, sudah barang tentu itu suatu yang baru, dan sebaliknya jika tidak baru sudah pasti itu Qidam sebab tidak ada tidak ada perantaraan diantara Qidam dan Baru.

Tapi jika Alloh itu Baru, maka itu sangat Mustahil (sama sekali tidak masuk akal) alasannya karena jika Alloh Baru, maka pasti butuh pada yang memperbaharuinya (Muhdits).

Dengan demikian Muhditsnya juga membutuhkan pada Muhdits yang lain dan seterusnya akan selalu dalam kondisi demikian (saling membutuhkan satu sama lainnya) tidak ada ujung penyelesaiaannya ” Tasalsul ➡➡➡ ” (Terus bersambung ). Namun jika sekiranya kembali lagi pada Muhdits yang pertama, maka itu disebut dengan ” Dawrun ” (muter♻ ).

Sedangkan jika keduanya (♻➡➡➡) itu tidak bisa dimengerti oleh akal sehat atau Mustahil bagi Alloh jika terbukti Tasalsul dan Dawrun.

Sekarang mari kita ungkap apa pengertian dari keduanya (Tasalsul dan daor), kita muat sedikit penjelasannya.

Tasalsul

Supaya lengkap dan pengetahuan kita bertambah, mari kita simak apa itu Tasalsul ? Yang disebut dengan Tasalsul iti adalah :

وَالتَّسَلْسُلُ هُوَ تَتَابُعُ الْأَشْيَاءِ وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ اِلٰى مَالَانِهَايَةَ لَهُ اَيْ تَرَتُّبُ اُمُوُرٍ غَيْرِ مُتَنَاهِيَةٍ

Artinya : ” Yang disebut dengan Tasalsul itu adalah terus menerusnya sebuah rangkaian yang tak berujung, satu setelah yang satunya dan seterusnya  sampai tidak ada penyelasaiannya. Yakni berurutannya suatu perkara yang menimbulkan terus menerusnya perkara yang lain sehingga tak ada batas akhirnya”.

Supaya bisa dicerna dari makna Tasalsul itu, sekarang kita ambil contoh ringan saja, kita kira-kirakan begini :

Yang mengadakan Zaid itu Umar, yang mengadakan Umar itu Bakar, yang menadakan Bakar itu Khalid, yang mengadakan Khalid itu Shaleh, dan seterusnya demikian hingga tak ada ujungnya. Nah yang demikian itu disebut dengan tasalsul, (silsilah).

Maka jika demikian itu suatu yang Mustahil bagi Alloh, karena di nalar sepintaspun sudah tidak masuk akal. Dan juga sama tidak masuk akalnya jika Alloh itu Baru, sebab jika Alloh baru pasti akan memerlukan yang menciptakan-Nya atau Muhdits, sementara kalau Muhdits tentu membutuhkan pada Muhdits yang lainnya.

Daur

Sekarang tinggal kita ketahui apa yang disebut dengan Dawrun (Daur), karena tidak akan lengkap pengetahuan kita jika hanya mengetahui arti Tasalsul saja. Dawrun (Daur) itu adalah :

وَالدَّوْرُ هُوَ تَوْقُفُ شَيْئٍ عَلٰى شَيْئٍ أٰخَرَ تَوَقَفَ عَلَيْهِ

Artinya : ” Yang disebut Daor itu adalah menunggunya suatu perkara, pada perkara lainnya, sementara perkara yang lainnya pun menunggu kehadiran perkara yang pertama”.

Lebih jelasnya seperti ini, Yakni Dua perkara yang saling tunggu satu sama lainnya. Jika dikira-kirakan seperti ini contohnya :

Yang membuat Zaid itu adalah Umar, sementara yang membuat Umar adalah Zaid.

Jika kita melihat contoh diatas, maka Zaid harus lebih dulu daripada Umar, sebab Zaid_lah yang membuat Umar. Sekarang jika Umar hendak membuat  Zaid, maka seharusnya Umar_lah yang lebih dahulu, sebab Umar yang akan membuat Zaid.

Nah kejadian seperti ini, tidaklah masuk akal ( Mustahil jika sesuatu yang belum ada bisa menciptakan sesuatu) maka yang demikian itu disebut dengan Daor (Dawrun).

Demikian juga jika Alloh itu Baru ( حادث ) sudah menjadi suatu kepastian Alloh membutuhkan pada yang membuat-Nya ( محدث ) lalu Muhdits tadi akan membutuhkan Alloh juga. Jika demikian adanya antara Muhdits dan Alloh saling membutuhkan dan saling menciptakan.

Dan juga tentunya keduannya harus lebih dahulu antara satu dan lainnya ( Alloh harus lebih dulu daripada Muhdits, sebab Alloh yang menciptakan Muhdits. Begitu juga Muhdits harus lebih dahulu daripada Alloh, sebab Muhdits yang Menciptakan Alloh).

Nah yang demikian itu disebut dengan Daor (muter) maka itu Mustahi bagi Alloh, sebab tidak masuk akal atau tidak bisa dimengerti oleh akal sehat, dengan demikian maka tetap Alloh itu harus bersifat Qidam.

Baca juga : Tuntunan berbuat maksiyyat

Kesimpulannya

Sekarang bisa kita simpulkan dari Sifat salbiyyah yang pertama yaitu dari dalil Sifat Qidam, jika Alloh tidak Qidam maka tentu Alloh itu Baru ( حادث ), terus jika Alloh Hadits tentu akan membutuhkan pada Muhdits seperti penjelasan diatas dalam dalam Dalil sifat Nafsiyyah (sifat Wujud).

Baca juga : Sifat Wujud

Kesimpulan sifat Nafsiyyah

Disana dijelaskan bahwa setiap yang baru, pasti membutuhkan pada yang menciptakannya (meperbaruinya) tidak mungkin ada dengan sendirinya. Maka jika membutuhkan pada yang menciptakan ( membuat), sudah barang tentu akan membutuhkan pada yang lainnya (yang menciptakannya lagi) dan terus seperti itu sehingga tidak ada ujung pangkalnya, dan yang demikian itu disebut dengan Tasalsul.

Tapi jika dalam hal membutuhkan yang lainnya terus kembali lagi pada Alloh, maka itu disebut dengan Daor (muter). Antara Tasalsul dan Daor itu Mustahil bagi Alloh.

Sekarang menurut akal fikiran, apa sebabnya mendorong pada Mustahil.  Yaitu jika Alloh membutuhkan pada yang menciptakan-Nya? Sebab karena adanya perkiraan bahwa Alloh itu Baru, kan itu suatu yang Mustahil jika Alloh itu Baru. Sebab kalau Alloh Baru maka akan terjadi Daur dan Tasalsul, yang mana keduanya sama-sama Mustahilnya.

Dengan demikian, jikalau Alloh itu Mustahil Baru ( حادث ) maka tetap wajib bagi Alloh disifati oleh Sifat Qidam, yaitu kebalikannya dari Baru. Dan inilah yang dimaksud dengan Dalilnya.

Tanbih

Kenapa Dalil sifat Wujud dan sifat Qidam dalam penjelasannya sangat panjang…??

Karena supaya jelas dan mudah difahami oleh Kita ( Khususnya saya yang awam ) sebab dari kedua dalil ini yang menjadi pokok dari dalil-dalil sifat yang lainnya, yang insya Alloh akan diulas satu persatu.

Dalil-dalil yang akan datang itu, semuanya nginduk pada dua dalil ini. Jadi jika kita bisa memahami dari Dalil sifat Wujud dan dalil Sifat Qidam, maka insya Alloh dalam memahami dalil-dalil sifat yang lainnya akan mudah dicerna.

Makna Qodiim dan Azalii ( ازلي )

Menurut Qaul yang Shohih, boleh menyebutkan Al-Qodiim ( القديم ) bagi Alloh Subhaanahu wa Ta’alaa, karena hasil Ijma’ para Ulama, serta tertaut dalam sebagian Riwayat dalam Al-awwalu wal aakhiru ( الأوّل والأٰخر ) itu diganti dengan oleh ucapan al-Qodiimul al-aakhiru ( القديم الأٰخر ).

Terus jika menurut Qaul yang Haq, antara Qodiim dan Azali itu sama saja. Sebab nama Qodiim itu artinya : ” Yang pertama tanpa permulaan ” dan yang disebut dengan Azali itu yang belum ada Zaman “. Sebelum Alloh menciptakan Zaman dan segala yang ada.

Jadi Dzat Alloh dan sifatnya, itu disebut dengan Qodiim dan bisa juga disebut dengan Azali.

Qiila

Tapi jika menurut sebagian Qaul, antara Qodiim dan Azali itu berbeda. Kalau Qodiim itu khusus buat yang Ada, sementara kalau Azali itu bersifat Umum yakni bagi yang bersifat ada dan juga tidak ada.

Jadi Dzat Alloh dan seluruh Sifat-sifatnya, entah itu sifat Mawjuudat (Ma’aniy) ataupun sifat Ma’duudaat (sifat salbiyyah) atau sifat Umuurun I’tibariyyah (Nafsiyyah dan Ma’nawiyyah), ini semua disebut dengan Azali.

Sementara kalau Qodiim itu menunjukan pada sifat Mawjuudat (sifat Ma’aniy) saja. Jadi sifat Salbiyyah, Nafsiyyah, dan sifat Ma’nawiyyah, itu tidak tertuju oleh ucapan Qodiim, tapi tertujunya itu oleh ucapan Azali, jika menurut Qaul yang kedua.

Alhamdulillaah selesai sudah ulasan ringkas tentang Sifat salbiyyah yang pertama beserta dalil-dalilny. Sampai ketemu lagi dalam bahasa Sifat Salbiyyah yang kedua.

Wallohu a’lam