Assalaamu’alaykum sahabat Bang Thoyyib, Alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita masih bisa dipertemukan kembali dalam uraian Sifat Salbiyyah. Dan sekarang kita sudah berada pada Sifat Salbiyyah yang ketiga, yaitu Sifat Mukhalafatun Lil Hawaditsi Silahkan simak dalam bahasan ini.

Sifat Salbiyyah yang ketiga (Sifat Mukhalafatun Lil Hawaditsi)

Seperti dalam bahasan sebelumnya, yang akan kita bahas pertama kali adalah makna dari sifat salbiyyah yang ketiga yaitu Sifat Mukhalafatun lil Hawaditsi. Seperti apakah maknanya…….????? Makna sifat Mukhalafatun Lil hawaditsi adalah :

  فَمَعْنَاهَا أَنَّهُ تَعَالٰى لَيْسَ مُمَا ثِلًا لِشَيْئٍ مِنَ الْحَوَادِثِ فِى الْحُدُوْثِ وَلَوَازِمِهٖ فِى ذَاتِهٖ وَلَا فِى صِفَتِهٖ وَلَا فِى أَفْعَالِهٖ

Artinya : Maknanya sifat Mukhalafatun Lil Hawaditsi adalah Wajib Alloh Subhanahu wata’ala tidak menyerupai seluruh makhluk yang baru (dalam artian Ciptaannya). Yaitu dalam segala ciptaan-Nya.

Jelasnya, makna sifat Mukhalafatun lil hawaditsi itu : Alloh tidak menyerupai satu perkarapun daripada makhluk ciptaannya, serta tidak menyerupai dari hal-hal yang melekat pada makhluk ciptaannya, entah itu dzat, sifat, dan segala af’alnya.

Sekarang mari kita uraikan satu persatu dari tiga poin diatas yaitu :

  1. Tidak menyerupai pada dzatnya
  2. Tidak menyerupai pada sifatnya
  3. Tidak menyerupai pada af’alnya

1. Tidak menyerupai pada Dzatnya

Pada uraian makna sifat salbiyyah yang ketiga ( Mukhalafatun Lil Hawaditsi ) itu disebutkan bahwa Alloh tidak menyerupai makhluknya dari segi apapun bahkan dzatnya sekalipun.

Karena Dzat Alloh tidak seperti dzat makhluk sebab Alloh itu bukan Jisim, bukan Jirim, dan juga bukan Jawhar. Untuk mengingat kembali apa itu Jisim, Jirim, dan Jauhar silahkan ikuti tautan dibawah ini ⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇

Baca juga : Jisim, Jirim, Jauhar

Versi bahasa sunda : Jisim, Jirim, Jauhar

Jadi barangsiapa yang meyakini bahwa Alloh itu Jisim, maka dia adalah orang kafir. Sebab Alloh itu tidak membutuhkan tempat, tidak terkurung oleh Jihat ( atas, bawah, barat, timur, utara, dan selatan), serta Alloh itu tidak mempunyai tangan, kaki, dan lain sebagainya, dan juga Alloh itu tidak berwarna, tidak mempunyai sifat besar, kecil, dan lain sebagainya.

Sifat salbiyyah yang ketiga
Yaa Rasuulallooh

2. Tidak menyerupai pada Sifatnya

Berikutnya pada sifat salbiyyah yang ketiga ini dijelaskan bahwa Alloh itu mukhalafatun lil hawaditsi pada sifatnya, yakni Alloh tidak menyerupai sifat makhluknya.

Jadi ‘Ilmunya Alloh itu bukan hasil dari belajar, serta Alloh tidak disifati oleh Dloruri atau Nadhori, dan tidak pula tersentuh oleh sifat lupa atau bodoh seperti ilmu (pengetahuan kita) yang banyak lupanya.

Baca juga : Dloruri dan Nadhori

Versi sunda

Begitu juga Qudratnya Alloh atau kekuasaan Alloh itu tidak membutuhkan alat pertolongan apapun, dan Iradatnya Alloh juga bukan karena Ghordlun ( غرض ) atau arahan buat kemanfaatan diri-Nya sebab Alloh itu Maha Kaya.

Serta Hayatnya ( Hidupnya ) Alloh itu bukan oleh Ruh seperti kita, dan Sama’, Bashor, juga Kalamnya ( mendengar, melihat, bersabdanya ) bukan oleh anggota badan atau berhadap-hadapan yang dilihatnya.

Dan juga Kalamnya atau bersabda-Nya itu bukan oleh suara, bukan pula huruf yang kebalikan dari itu adalah disebut dengan diam.

3. Tidak menyerupai pada af’alnya (pekerjaannya)

Uraian terakhir dari sifat salbiyyah yang ketiga yaitu sifat Mukhalafatun lil hawaditsinya Alloh itu dalam af’al-Nya (pekerjaan-Nya), karena af’al_Nya Alloh itu bukan dengan anggota tubuh, dan Af’al-Nya Alloh itu disebut juga dengan Kholqun, yakni mengadakan (menciptakan) suatu perkara itu tidak memakai pembantu أَلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاتَ—–الاية

Oleh sebab itu Alloh itu disebut dengan Khaliq ( Yang Menciptakan), sementara kalau yang diciptakannya itu disebut dengan Makhluk.

Sementara kalau pekerjaan manusia itu, disebut dengan Kasab ( لَهَا مَا كَسَبَتْ—الاية ) sesuai dengan kutipan ayat ini.

Kasab itu mempunyai makna seperti ini ; Mengerjakan suatu perkara serta memakai pembantu dan juga alat dan juga ada bahan untuk dibuatnya.

Contohnya seperti : Makan pake tangan, Berjalan pake kaki, mencangkul pake alat, bikin kursi ada bahannya kayu dan lain sebagainya. Jadi yang namanya kasab itu, hanya mengolah sesuatu yang sudah ada dan tak ada bekasnya.

Lain halnya dengan Khalqun, karena yang disebut dengan khalqu itu adalah menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada, demikian juga Af’al (pekerjaan)nya Alloh subhaanahu wa ta’alaa seperti itu (menciptakan yang tidak ada menjadi ada).

Kebalikan Dari Sifat Mukhalafatun Lil Hawaditsi

Sekarang yang belum kita ulas adalah kebalikan dari sifat Mukhalafatun lil Hawaditsi yaitu Mumatsalatun Lil Hawaditsi artinya menyerupai yang baru ( Makhluknya).

Kalau yang saling menyerupai yang terdapat diantara sesama makhluk, itu ada Sepuluh macem diantaranya ;

  1. Jirim
  2. ‘Arodl
  3. Ada diJihat yang enam
  4. Mempunyai Jihat
  5. Mempunyai tempat
  6. Mempunyai Zaman yakni Terkurung oleh waktu
  7. Jadi tempat yang baru
  8. Disifati oleh kecil
  9. Disifati oleh besar
  10. Disifat oleh ‘Arodl yakni ada yang mengarahkan daripada pekerjaan dan hukum.

Yang disebut dengan ‘Arodl itu adalah : Tujuan yang dimaksud yang kemanfaatannya kembali pada dirinya.

Contohnya seperti : Makan agar kenyang dan kuat, mencangkul agar dapat hasil padi, mengadakan hukum supaya aman, dan lan sebagainya. Nah yang demikian itu disebut dengan ‘Arodl, dengan demikian Alloh itu Mustahil menyerupai atau disifati oleh salah satu dari yang sepuluh poin diatas.

Dalil sifat Salbiyyah yang ketiga (Mukhalafatun lil Hawaditsi)

Untuk melengkapi sebuah uraian hukum yang menjelaskan sifat salbiyyah yang ketiga yaitu sifat mukhalafatun lil hawaditsi, sekarang mari kita ungkap Dalilnya juga. Dan dalil yang akan kita tuangkan disinipun ada dua macam, yaitu :

  • Dalil Naqli
  • Dalil ‘Aqli

Dalil naqli

Adapun dalil Naqli dari sifat Mukhalafatun lil hawaditsi adalah Firman Alloh yang tertuang dalam surat asy-Syuro ayat 11 yang berbunyi :

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya : Tidak ada sautu perkarapun yang menyerupai kepada-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Dalam kutipan ayat tersebut menunjukkan bahwa Alloh ta’ala itu tidak menyerupai makhluk-Nya, serta makhlukpun tidak ada yang menyerupai kepada Alloh Ta’ala. Dan menunjukkan bahwa Alloh itu disifati pula oleh Sifat Sama’ dan sifat Bashor, yakni Maha Mendengar serta Maha Melihat.

Dalam uraian dalill naqlinya sifat Mukhalafatun lil hawaditsi ini, jika Sahabat ingin lebih faham secara mendetil silahkan hubungi Ulama terdekat yang memahami tentang itu, sebab kalau hanya membaca sebuah artikel akan sulit memahaminya.

Dalil Naqli sifat salbiyyah yang ketiga sudah dituangkan disini, sekarang mari kita melangkah untuk mengatahui dalil ‘Aqli (akal)nya.

Dalil ‘aqli

Adapun dalil ‘aqli (akal) dari sifat salbiyyah yang ketiga (sifat mukhalafatun lil hawaditsi) adalah sebagai berikut ;

Dalil ‘aqli yang menetapkan bahwa Alloh disifati oleh sifat Mukhalafatun lil hawaditsi adalah Seperti ungkapan : Alloh itu disifat oleh sifat Mukhalafatun lil hawaditsi yaitu membedakan dari segala sesuatu yang baru atau ciptaannya, karena jika Alloh menyerupai yang baru atau ciptaannya maka tentu Alloh itu serupa (sama) dengan yang baru.

Tapi jika Alloh sama dengan yang baru itu Mustahil, karena kalau Alloh menyerupai pada satu perkarapun dari yang baru ( entah itu Jirim atau membutuhkan tempat, dan pada sifatnya secara ‘Arodl atau disifati oleh besar dan kecil, atau Af’alnya seperti disifati oleh Ghordun).

Jika Alloh menyerupai makhluknya (yang baru), maka pasti Alloh itupun baru (sama seperti yang baru karena menyerupai).

 لِأَنَّ مَاجَازَ عَلٰى أَحَدِ الْمِثْلَيْنِ جَازَ عَلٰى أٰخَرِ 

Artinya : Karena jika perkara yang wenang menyerupai satu dan lainnya, maka wenang pula menyerupai yang lainnya.

Sementara yang demikian itu Mustahil bagi Alloh jika disifati oleh sifat yang baru (makhluknya), jika Alloh mustahil baru maka hasil yang dituju yaitu tetep ada sekat yang membedakan antara Alloh dan segala sesuatu yang baru (Mukhalafatun lil Hawaditsi).

Jika Alloh tetap Mukhalafatun lil Hawaditsi, maka mustahil Alloh (Mumatsalatun lil Hawaditsi). Yakni Mustahil Alloh menyerupai yang baru, yang mana Mumatsalatun lil Hawadaitsi itu kebalikannya dari Mukhalafatun Lil hawaditsi.

Kesimpulan

Sifat salbiyyah yang ketiga itu adalah sifat Mukhalafatun lil hawaditsi (beda Alloh dari segala sesuatu yang baru) dari Dzat-Nya, Sifat-Nya, dan Af’al-Nya.

Sebagai Contoh ringan saja : Tukang Kursi tidaklah sama dengan yang dibuatnya (Kursi)

Dan pada sifat Mukhalafatun lil hawaditsi ini diperkuat oleh dua metode Dalil :

  1. Dalil Naqli
  2. Dalil ‘Aqli

Serta kebalikan dari sifat Mukhalafatun lil hawaditsi ini adalah Mumatsalatun Lil Hawadisi (menyerupai yang baru).

Maka jika Alloh Wajib disifati oleh sifat Mukhalafatun lil hawaditsi, maka Mustahil Alloh disifati oleh sifat Mumatsalatun Lil hawaditsi.

Walloohu a’lam

Sekian yang bisa saya sampaikan, mohon maaf jika ada kekurangan.

Wassalaamu’alaykum warohmatulloh