SIFAT SALBIYYAH YANG KE LIMA

posted in: Ilmu Tauhid | 3

Assalaamu’alaykum warohmatullohi wa barokaatuh, lama tak jumpa Sahabat Bang Thoyyib yang dirahmatai Alloh. Tak terasa ya kita sudah sampai bada bahasa sifat salbiyyah yang ke lima, yaitu sifat Wahdaniyyat.

Sifat salbiyyah yang ke Lima (Sifat Wahdaniyyat)

Sahabat Yang di Rahmati Alloh sama seperti bahasan-bahasan yang telah kita simak dan pelajari, mulai dari Sifat Nafsiyyah, sifat salbiyyah pertama, sifat salbiyyah ke dua, sifat salbiyyah ke tiga, sifat salbiyyah ke empat, dan sifat salbiyyah ke lima.

Baca juga : 

Nah dalam sifat salbiyyah yang ke lima juga yang paling awal, kita akan mengurai maknanya, supaya kita tau terlebih dahulu akan apa yang hendak kita pelajari bersama.

Adapun makna dari sifat salbiyyah yang ke lima yaitu sifat Wahdaniyyat itu adalah sebagai berikut :

  وَمَعْنَاهَا أَنَّ اللّٰهَ تَعَالٰى وَاحِدٌ فِى الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ

Artinya : Makna sifat Wahdaniyyat itu adalah Alloh Ta’ala itu yang Maha Tunggal Dzat-Nya, Tunggal Sifat-Nya, Tunggal dalam segala Af’al-Nya.

Maka dari pengertian diatas dapat kita fahami bahwa yang dimaksud oleh Wahdaniyyat ini ada tiga makna, yaitu:

  1. Wahdaniyyat Fidz Dzaat
  2. Wahdaniyyat Fish Shifat
  3. Wahdaniyyat Fil Af’al

Sekarang mari kita ketahui satu persatu dari tiga point diatas tersebut.

Wahdaniyyat Fidz-Dzaat

Yang disebut dengan wahdaniyyat Fidz-Dzat itu adalah Dzat Alloh itu tidak tersusun atau terbentuk dari beberapa bagian (Juz), dan yang selain Alloh tidak ada yang memiliki Dzat seperti Dzatnya Alloh Ta’ala.

Jadi Wahdaniyyat Fidz-Dzat itu menafi_kan (membersihkan) daripada Kam Muttashil Fidz-Dzat ( كم متصل فى الذات ) dan Kam Munfashil fidz-Dzaat ( كم منفصل فى الذات ).

Wahdaniyyat Fish-Shifaat

Selanjutnya yang disebut dengan Wahdaniyyat Fish-Shifat itu adalah tidak terbilang dalam satu persatunya sifat, seperti ada sifat Qudrat dua atau lebih, dan sifat-sifat yang lainnya.

Jadi Qudrat-Nya, ‘Ilmu-Nya, Iradah-Nya Alloh itu tidak lebih dari satu. Dan selain Alloh itu tidak ada yang mempunyai sifat yang seperti sifat-sifatnya Alloh Ta’ala.

Jadi tidak akan ada satu makhlukpun yang mempunyai Qudrat seperti Qudratnya Alloh sehingga bisa menciptakan (meng_adakan) serta mentiadakan.

Tidak ada satu makhlukpun yang mempunyai Ilmu yang seperti Ilmu-Nya Alloh Ta’ala, sehingga bisa mengetahui akan segala macam perkara. Dan demikian pula sifat-sifat yang lainnyapun demikian, yaitu semuanya Tunggal.

Terus Wahdaniyyat Fish-Shifaat ini membersihkan (menafi_kan) dari Kam Muttashil fish-Shifat ( كم متصل فى الصفات ) serta Kam Munfashil Fish-Shifat ( كم منفصل فى الصفات ).

Wahdaniyyat Fil-Af’al

Yang berikutnya adalah Wahdaniyyat fil Af’al, adapun makna dari Wahdaniyyat fil af’al adalah :

Sifat salbiyyah yang ke lima

Hanya Alloh sajalah yang memiliki semua pekerjaan, sementara yang selain Alloh itu tidak ada satupun yang memiliknya. Entah itu yang bersifat Ikhtiyari ( yang sengaja kita pilih ) atau pekerjaan Idlthiroori ( secara terpaksa ).

Karena makhluk itu dalam pekerjaan Ikhtiyari pun hanya sebatas kasab yang tak berbekas, terus Wahdaniyyat fil af’al itu menafikan (membuang) pada Kam Munfashil fil af’al ( كم منفصل فى الأفعل ) doank, menurut Qaul yang masyhur.

Masalah Kasab

Diakhir ulasan Wahdaniyyat fil af’al disebutkan bahwa yang disebut dengan kasab itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Kasab Ikhtiyari
  2. Kasab Idlthirori

1. Kasab Ikhtiyari

Apa yang disebut dengan Kasab Ikhtiyari…??

Yang disebut dengan Kasab Ikhtiyari adalah memilih suatu pekerjaan yang didahului oleh kereteg hati (niyat) sebelum mengerjakannya. Contohnya seperti : ” Nulis, Mukul, berjalan, Ruku, Sujud, dan lain sebagainya “.

2. Kasab Idlthirori

Yang disebut dengan Kasab Idlthirori adalah keterpaksaan dalam melaksanakan suatu pekerjaan, yakni tidak adanya niyat terlebih dahulu.

Contohnya seperti : ” Menggigil, berkedipnya mata, dan berriaknya air saat kita menyelam “.

Dua poin diatas yaitu Kasab Ikhtiyari dan kasab Idlthirori, itu semua ciptaan Alloh. Adapun kalau bagi makhluk dalam Ikhtiyari_pun hanya sekedar kasab, tapi kalau dalam Idlthirori mah kasab pun tak ada.

[Kasab]

Sebelum melangkah pada pengertian pada Kasab yang terkuak dari sifat salbiyyah yang ke lima ( sifat Wahdaniyyat) Fil Af’al, kita harus terlebih dahulu bahwa setiap perkara yang datangnya dari manusia itu ada Empat perkara, diantaranya:

  1. Iradah Sabiqah [ Mendahulukan angan-angan]
  2. Qudrat [keahlian atau kekuasaan]
  3. Fa’lun [Pekerjaan]
  4. Irtibath Baynahumaa [Hubungan antara keahlian dan mengerjakanny]

Adapun yang disebut Kasab menurut Imam al-Asy’ariy itu adalah membarenginya keahlian yang baru pada pekerjaan yang layak dipilih (Ikhtiyari), disertai oleh tak adanya bekas yang dikuasainya.

Atau ringkasnya begini, bahwa yang disebut dengan Kasab itu adalah :

تَعَلُّقُ الْقُدْرَةِ الْحَادِثَةِ بِالْمَقْدُوْرِ

Artinya : Hubungan keahlian yang baru pada yang dikuasainya.

Maka jika menurut Qaul yang ini, yang disebut dengan Kasab itu bukan makhluk. Tidak dibuat karena termasuk pada Amrun I’tibariyyun ( أمر إعتباري ) yakni perkara yang dikira-kirakan, yang tak berwujud pada kenyataannya diluar hati sebab hanya sekedar hubungan doank (bukan pembuktian dari pekerjaan).

Tapi kalau menurut sebagian ulama lagi, yang disebut dengan kasab itu adalah :

أَلْاِرَادَةُ الْحَادِثَةُ

Artinya : Pasejaan yang baru

Maka jika merunut pada Qaul yang ini, yang disebut dengan Kasab itu adalah makhluk pekerjaan (ciptaan) Alloh dalam artian bukan hanya sekedar perkiraan dalam hati.

Maka dengan sebab Kasab, Alloh mengganjar (ngasih ganjaran) oleh Fadlolnya (Karunia-Nya) kepada kita semua, dan oleh keadilan-Nya. Maka Kasab yang bagus menjadikan sebab akan ganjaran, dan Kasab yang jelek akan menjadikan sebab mendapat siksa dari-Nya.

Dan oleh adanya kasab yang dinisbatkan kepada Abdi (Hamba), sebab adanya penyesuaian pada saat Ikhtiyar.

Jadi pekerjaan Ikhtiyar itu disandingkan kepada Abdi/hamba dari segi Kasab, adapun kalau dari Alloh itu disebut dengan Khuluq dan Ikhtiro’ ( خُلُق dan إِخْتِرَاع ) yakni mengadakan atau menciptakan tanpa adanya pembantu, dan tidak adanya contoh terlebih dahulu.

Sementara kalau yang disebut dengan Kasab itu, bukan mengadakan ataupun menciptakan suatu perkara tidak memakai pembantu atau contoh terlebih dahulu.

Jadi yang disebut dengan Kasab itu bukan meng_adakan (menciptakan), tapi hanya sekedar membarengi atau berhubungan. Itu menurut Qaul al-Asy’ariy, atau hanya sekedar adanya niyatan jika menurut Qaul ulama yang lainnya.

Pembagian Madzhab dalam Masalah Kasab

Dalam pekerjaan ‘abdi/hamba yang disebut dengan Kasab itu terdapat Empat Madzhab dalam mendefinisikannya, diantaranya :

  1. Madzhab Mu’tazilah/Qodariyyah
  2. Madzhab Jabariyyah
  3. Madzhab Falasifah
  4. Madzhab Ahlus sunnah wal Jamaah

1. Madzhab Mu’tazilah

Madzhab yang mengawali bahasan dalam bab Kasab adalah Madzhab Mu’tazilah yang disebut dengan Qodariyyah, madzhab ini dalam mendefinisikan kadab itu sebagai berikut :

Mereka mempunyai pendirian bahwa si abdi/hamba/manusia itu yang membuat pekerjaan yang bisa dipilih oleh kekuatannya, yang mana kekuatan itu diciptakan oleh Alloh pada hamba tersebut.

Nah keyakinan seperti ini tidak sampai pada peringkat Kufur, namun termasuk kedalam kelompok orang-orang fasiq serta menjadi Ahli bid’ah.

2. Madzhab Jabariyyah

Madzhab selanjutnya adalah Madzhab Jabariyyah, sebetulnya madzhab ini adalah sebagian dari Madzhab Mu’tazilah yang meyakini bahwa si Hamba itu dipaksa dhohir-bathinnya pada pekerjaan.

Jadi untuk si Abdi itu pada seluruh pekerjaan yang yang diperbuatnya, sama sekali tidak ada Kasab dan Ikhtiyar. Maka si Abdi itu tak jauh beda laksana daun yang terjatuh dari tangkainya, atau sehelai bulu yang terbang tertiup angin yang melayang tanpa arah dan tujuan.

Intinya, menurut mereka itu segala rupa perkara itu terserah Tuhan sah keyakinan atau pendirian seperti ini lebih buruk daripada Madzhab yang pertama, sebab untuk selanjutnya mereka berkeyakinan seperti ini :

Jika Alloh menyiksa orang yang durhaka, maka Alloh itu berbuat Dholim karena Tha’at dan Maksiat itu semua ciptaan Alloh.

3. Madzhab Falashifah

Poin selanjutnya adalah Madzhab Falashifah, Madzhab ini meyakini bahwa Alloh Subhaanahu wa ta’ala itu membuat Qudrat Muatsirat ( keahlian yang membekas) pada si Hamba /manusia. Contohnya seperti : ” Api bisa menggosongkan oleh dzatnya “.

Maka jika manusia yang mempunyai keyakinan seperti contoh diatas, maka dia termasuk kedalam golongan orang yang Kufur, karena meyakini bahwa selain Allohpun ada yang mempunyai jejak.

4. Madzhab Ahlus sunnah wal Jama’ah

Yang terakhir dalam mendefinisikan masalah kasab tersebut adalah Madzhab ahlus sunnah wal jamaah, madzhab inilah yang harus kita ikuti, kita Tho’ati dan kita jadikan tolak ukur.

Karena Madzhab ini berada diantara Qodariyah dan Jabariyyah, yaitu meyakini bahwa si Hamba dalam pekerjaan Ikhtiyari itu tidak mempunyai bekas apa-apa, karena hanya sekedar Kasabnya Abdi Majbuuron, Baathinan, Mukhtaaron, Dhoohiron.

Dengan demikian, maka si Hamba (Makhluk) itu batinnya dipaksa tapi Dhohirnya berhak untuk memilih (mempunyai pilihan). Jadi, pendirian Ahlis sunnah wal-Jama’ah itu posisinya berada ditengah-tengah antara pendapatnya Qodariyyah dan Jabariyyah.

Baca juga : Pengertian Ahlus sunnah wal Jama’ah

Perincian pendapat Madzhab Qodariyyah dan Jabariyyah serta Ahlus sunnah wal Jama’ah

Keterangan yang membedakan diantara Madzhab tersebut adalah sebagai berikut :

a. Madzhab Qodariyyah / Mu’tazilah

Menurut Qodariyyah itu seperti ini :

فَالْعَبْدُ مُخْتَارٌ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

Artinya : Manusia itu punya pilihan lahir batinnya.

Contohnya : Burung hidup oleh sayapnya, Manusia hidup oleh akalnya. Jadi pintarnya, kayanya, dan segala sesuatu yang dihasilkan  manusia itu, mutlak hasih dari reka-daya dan usaha manusia itu sendiri.

Nah pendirian seperti itu adalah yang dipegang teguh dan dijadikan acuan oleh mereka penganut Qodariyah.

b. Madzhab Jabariyyah

Sementara jika menurut penganut Madzhab Jabariyyah itu seperti ini :

فَالْعَبْدُ مَجْبُوْرٌ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

Artinya : Manusia itu dipaksa lahir batin.

Dalam artian segala sesuatu itu bagaimana Alloh saja, sehingga tidak ada ruang untuk memilih. Jadi orang yang hendak Tha’at ataupun Maksiat, itu terserah Alloh saja.

Maka jika menurut Qodariyyah itu sembrono, karena mengakui bahwa segala sesuatunya merasa dia yang mengerjakan (punya pekerjaan). Sementara kalau Jabariyyah itu kesannya ngawur karena tidak mau Kasab atau ikhtiyar.

Nah jika Ahlus sunnah Waljama’ah itu berada diantara Qodariyyah dan jabariyyah, yaitu : Dhohirnya mempunyai Budi, akal untuk memilih karena telah dianugrahi akal. Dengan memakai alasan dari Firman Alloh yang tertuang dalam surat Al-Baqoroh ayat.276 :

لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ

Artinya : Segala sesuatu yang diusahakan oleh manusia bermanfaat baginya, dan Madlarat pula segala apa yang diusahakannya.

Dan juga Firman Alloh yang tertuang dalam surat Ar-Ruum ayat 41 :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ

Artinya : Telah tampak keruksakan di daratan dan dilautan, karena Ulah tangan (Kasab) manusia.

Nah kedua kutipan ayat ini jelas menolak pada pendirian Madzhab Jabariyyah yang enggan untuk kasab, tapi jika bagi Ahlus sunnah wal Jama’ah pendirian seperti itu dipake sebatas Lahiriyah saja, adapun jika dalam batiniyyah mah pekerjaan apapun semuanya atas kehendak Alloh.

Karena Manusia atau makhluk itu tidak mempunyai bekas dalam pekerjaan apapun, dan itu sesuai dengan Firman Alloh dalam surat Ash-shofaat ayat 96 :

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Artinya : Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

Serta firman Alloh yang tertuang dalam surat An-Nisa ayat 78 yang berbunyi :

قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ

Artinya : ” Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”.

Maka  dua ayat diatas menolak mentah-mentah pada pendapatnya penganut Qodariyyah, yang mengakui mempunyai pekerjaan dhohir bathin.

Jadi Ahlus sunnah itu Jika melakukan perbuatan dosa itu cepat-cepat diakuinya sebab Kasab sendiri supaya mau untuk bertobat. Tapi jika melakukan Tha’at, maka itu adalah Anugrah dari-Nya. Sebab bisa Tha’at itu atas kehendak Alloh.

Oleh sebab itu supaya tidak ada rasa Ujub oleh perbuatan Tha’atnya, jangan sampai segala sesuatu itu hasil jasa sendiri. Nah jika sudah demikian sudah barang tentu selamat Tekad dan amalnya.

Kesimpulan Sifat salbiyyah yang ke Lima

Dalam kesimpulan sifat salbiyyah yang kelima ini sebetulnya belum mencapai pada titik kesimpulan seluruhnya, karena dalam bahasannya sangat panjang, tapi yang tertuang dalam kesimpulan ini baru ngambil sebuah rangkuman dari sifat Wahdaniyyat fil af’al.

Nah dalam rangkuman sifat salbiyyah yang kelima dari poin Wahdaniyyat fil af’al itu bahwa seluruh pekerjaan itu hanya alloh lah yang memilikinya, adapun kalau selain Alloh mah tidak memiliki sesuatu apapun dari pekerjaan itu.

Lain halnya dengan Mukjizat para Nabi, Karomahnya para Wali, ataupun Sihir nisbat kepada orang yang Fasiq. Maka itu tidak memiliki bekas apapun kecuali semuanya pekerjaan Alloh.

Kebalikannya sifat salbiyyah yang ke lima ( Wahdaniyat )

Adapun kebalikannya atau lalawanannya Sifat salbiyyah yang kelima / sifat Wahdaniyyat adalah At-Ta’addudu [terbilan], maka Mustahil Alloh itu terbilang entah itu Dzat-Nya, Sifat-Nya, serta Af’al-Nya.

Dengan demikian Alloh itu Maha Bersih dari Kam yang lima atau enam yang termasyhur, nah untuk mengetahui apa saja Kam itu…..??????????

Temukan jawabannya dalam pertemuan yang akan datang.