SIFAT SALBIYYAH YANG KE EMPAT

posted in: Ilmu Tauhid | 0

Assalaamu’alaykum warohmatullohi wa barokaatuh, Selamat berjumpa kembali sahabat Bang Thoyyib, tak terasa ya bahasan kita sudah sampai pada sifat salbiyyah yang ke empat yaitu sifat Qiyamuhu binafsihi.

SIFAT SALBIYYAH YANG KE EMPAT adalah Sifat Qiyamuhu binafsihi

Jika kita amati dari posting-posting sebelumnya, dalam menyampaikan sifat demi sifat yang diuraikan selalu menyertakan Makna dari sifat itu.

Dan insya Alloh dalam uraian sifat salbiyah yang yang ke empat (Qiyamuhu binafsihi) pun demikian yaitu akan kita uraikan sebuah makna dari sifat Qiamuhu binafsihi.

Jika akan diuraikan makna sifat salbiyyah yang ke empat (Qiyamuhu binafsihi) mari kita simak dibawah ini :

وَمَعْنَاهُ أَنَّ ذَاتَ اللّٰهِ تَعَالٰى غَنِيَّةُ عَنْ كُلِّ مَحَلٍ أَيْ ذَاتٍ تَقُوْمُ بِهَا وَغَنِيَّةٌ أَيْضًا عَنْ مُخَصَّصٍ أَيْ مَوْجِدٍ لِأَنَّهُ الْمَوْجِدُ الْأَشْيَاءِ

Artinya : Yang dimaksud dengan Qiyamuhu binafsihi itu adalah ” Sesungguhnya Dzat Alloh itu Maha Kaya, yakni tidak membutuhkan Dzat yang lainnya untuk ditempati (sebab Alloh itu Dzat, bukan sifat yang membutuhkan tempat untuk bersemayam”.

Dan Alloh itu Maha kaya karena tidak membutuhkan pada yang menciptakan pada segalarupa perkara.

Demikian makna dari Qiyamuhu binafsihi, dan ucapan Qiyamuhu binafsihi disini menurut arti Lughot (asal bahasa) itu adalah Berdiri sendiri .

Tapi kalau disini Makna sifat Qiyamuhu binafsihi itu lebih condong pada Maha kaya, karena tidak membutuhkan apapun pada sesuatu dzat lainnya.

Sebab jika membutuhkan dzat yang lain mah itu namanya sifat, dan Alloh itu tidak membutuhkan pada yang menciptakan sebab Alloh itu Qodim (ada terlebih dahulu, serta tidak ada permulaan sebelum apapun juga).

Baca juga : Sifat Qidam

Makna sifat salbiyyah yang ke empat (Qiyamuhu binafsihi) menurut Luhgat atau asal bahasa

Makna Qiyam

Sebetulnya Makna dari kata Qiyam itu sangat banyak, tapi yang akan dituangkan disini hanya sebagian kecil saja, diantaranya :

a. Qiyam bermakna Berdiri

Yang pertama makna dari kata Qiyam itu ada yang bermakna Berdiri, contohnya seperti ungkapan Qooma Zaydun ( قام زيد ) artinya sudah berdiri Ki Zaid.

Sifat salbiyyah yang ke empat
Ketahuilah

b. Qiyam bermakna mengukuhkan / melaksanakan

Selanjutnya makna dari kata Qiyam itu adalah mengukuhkan atau Melaksanakan, contoh dari kata Qiyam dalam poin ini seperti : Qoom Fulaan bikadza ( قام فلان بكذا ) artinya Sudah melaksanakan si Fulan pada pekerjaan itu.

Baca juga : Pelaksanaan sebuah proses

c. Qiyam bermakna berkecamuk

Makna Qiyam yang berikutnya adalah berkecamuk, seperti ungkapan Qoomatil Charobu ( قامت الحرب ) berkecamuknya peperangan.

d. Qiyam bermakna Kaya

Nah Qiyam yang berlaku dalam sifat salbiyyah yang ke empat (Qiyamuhu binafsihi) itu adalah Kaya, yakni tidak membutuhkan yang lainnya.

Contohnya seperti ungkapan Qiyaamuhu ta’alaa binafsihi ( قيامه تعالى بنفسه ) Kaya Alloh sebab Alloh itu Dzat.

Itu sebagian dari makna Lafadh Qiyam, sekarang kita tinggal mengulas makna Nafsin ( نفسٍ ).

Makna Nafsin

Seperti halnya pada lafadh Qiyam, makna Nafsin juga mempunyai arti yang banyak, tapi disini hanya akan diulas beberapa saja, diantaranya :

a. Nafsi bermakna Darah

Untuk makna Nafsi yang pertama adalah Nafsi yang bermakna Darah, untuk contoh Nafsi yang bermakna darah adalah sebuah ungkapan yang diambil dari qaul Ahli Fiqih sebagai berikut :

مَالَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ لَاتُنَجِّسُ الْمَاءَ

Artinya : Hewan yang tidak mempunyai darah mengalir itu, tidak mengakibatkan najis pada air.

b. Nafsi bermakna bernafas

Selanjutnya makna dari Nafs itu ada juga yang bermakna bernafas (ambekan), untuk contoh dari Nafs yang bermakna ambekan/bernafas adalah seperti : فُلان لا نَفْسَهُ (Fulan laa nafsahu artinya : Ki Fulan sudah tidak bernafas/ambekan) dalam artian sudah Mati.

c. Nafsi bermakna Siksaan

Ada juga Nafs itu yang bermakna siksaan, kok bisa ya…? Mari kita simak uraian berikut :

Sebagian Ulama ahli Tafsir memaknai ayat :

وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهُ____ والله اعلم

Artinya : Menakut-nakuti Alloh kepada mereka oleh siksaannya.

d. Nafsi bermakna Dzat

Yang terakhir adalah Nafs yang bermakna Dzat yang tertuang dalam lafadh Qiyamuhu binafsihi yang artinya : (Jumeneng/berdiri sendiri/ Maha kaya Alloh ta’ala sebab Dzatnya).

Atau firman Alloh yang berbunyi :

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

Artinya : Telah menetapkan (telah memFardlu_kan) Tuhan Kalian pada Dzatnya akan Rohmat (Mikawelas: Sunda).

Atau seperti meriwayatkan Nabi ‘Isa ‘alayhis salam :

تَعْلَمُ مـَا فِيْ نَفْسِى وَلَا أَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ

Artinya : Maha mengetahui Gusti Alloh pada segala apa yang ada pada diriku, dan sementara aku tidak mengetahui pada Rahasia Dzat Gusti Alloh.

Jadi lafadh Qiyam disini mengandung arti Kaya/sugih, terus lafadh Nafsi_nya mengandung arti Dzat. Dengan demikian yang dimaksud dengan ucapan Qiyamuhu binafsihi itu adalah :

Maha kaya Alloh sebab Dzat-Nya.Yakni tidak membutuhkan pada Dzat selain Dia.

Ucapan sugih disinipun menjadi dua pokok yaitu :

  1. Sugih Dzat-Nya yakni tidak membutuhkan Dzat yang lain.
  2. Sugih dari yang menciptakan yakni tidak membutuhkan pada yang menciptakan-Nya.

Maka dengan adanya sugih (Kaya) dari yang dua diatas, maka Alloh itu Kaya dari anak, kaya dari Syarik (yang menemani/menyerupai) dalam jadinya Tuhan.

WalHasil Alloh itu maha Kaya, yakni tidak membutuhkan sesuatu pun dari segala rupa perkara ( غَنِيٌّ مُطْلَقًا ).

Mawjuudaat 

Selanjutnya dalam uraian sifat salbiyyah yang ke empat itu ada bahasan tentang Mawjuudaat ( موجودات ), apa yang disebut dengan mawjuudaat ????

Yang disebut dengan Mawjuudaat itu adalah setiap perkara yang Ada, akan tetapi nisbat pada Mahal (Dzat), dan Mukhoshish ( yang mengadakan ). Dan dalam Maujuudaat ini terdapat Empat bagian, diantaranya :

  1. Kaya dari Dzat yang lainnya serta Kaya dari yang mengadakan (menciptakan), yaitu Dzat Alloh yang Mukhalafatun lil Hawaditsi.
  2. Yang membutuhkan pada Dzat dan butuh pula pada yang menciptakan (mengadakan), yaitu disebut dengan A’rodlul Hawaaditsi yakni sifat yang baru, seperti : Hitam, putih, bergerak, diam, tinggi, pendek, dan lain sebagainya.
  3. Membutuhkan pada yang menciptakan tapi tidak membutuhkan pada dzat seperti kita semua, yakni dzat yang baru.
  4. Yang berdiri sendiri pada Dzat-Nya, yakni tidak membutuhkan pada yang mengadakan yaitu Sifatnya Allohu Ta’ala.

Baca juga : Empat bagian penting dari sifat 20

Tanbih (Sebuah peringatan)

 

Kita dikasih peringatan supaya tidak berbicara seperti ungkapan-ungkapan dibawah ini :

  • Dzat Alloh itu menjadi tempat sifat-Nya.
  • sifat Alloh membutuhkan akan Dzat-Nya.
  • Sifat Alloh itu berbarengan dengan Dzat-Nya.
  • Sifat Alloh berada didalam Dzat-Nya.
  • Sifat Alloh membandingi akan Dzat-Nya.

Nah ungkapan seperti diatas itu tidak diperbolehkan untuk kita ucapkan, sebab dikhawatirkan akan memberi makna menyamakan dengan sifat-sifat yang baru ( Makhluk ), karena Alloh itu tetap mempunyai sifat Mukhalafatun lil Hawaditsi.

Adapun untuk lawan (keblikan dari sifat salbiyyah yang ketiga/ sifat Qiyamuhu binafsihi adalah :

أَلْإِحْتِيَاجُ إِلٰى الْمَحَلِ وَالْمُخَصِّصِ

Artinya : Membutuhkan pada Dzat lain dan pada yang meng_adakan.

Dengan demikian, jadi Mustahil jika Alloh membutuhkan Dzat dan pencipta yang lain. Karena Tuhan yang kita sembah yang bernama Alloh itu adalah Dzat, bukan sifat, dan bukan pula ‘Arodl serta Mustahil jika Alloh membutuhkan pada yang menciptakan, karean Alloh lah yang menciptakan segala rupa perkara yang ada dijagat raya ini.

Dalil sifat salbiyyah yang ke empat (Qiyamuhu biafsihi)

Sebelum kita mengakhiri bahasan sifat salbiyyah yang ke empat (Qiyamuhu binafsihi), disini belum lengkap dan akurat jika tidak menyertakan sebuah Dalil atau alasan yang kuat.

Maka dari itu marilah sekarang kita ulas Dalil yang akan tertuang dalam sifat salbiyyah yang ke empat ini, dengan dua metode Dalil, yaitu :

  1. Dalil Naqli
  2. Dalil ‘Aqli

Dalil Naqli

Adapun Dalil Naqli yang menguatkan sifat salbiyyah yang ke empat (Qiyamuhu binafsihi) adalah Firman Alloh yang tertuang pada surat Al-‘ankabut ayat 6 :

إِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَـمِيْنَ

Artinya : Sesungguhnya Alloh itu yang Maha Kaya (tidak membutuhkan ‘Alam).

Dan juga Firman Alloh dalam surat Ibrohiim ayat 7 :

فَإِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Artinya : Maka sesungguhnya Alloh itu yakin Yang Maha Kaya serta Terpuji.

Dua kutipan ayat diatas itu menunjukkan bahwa Alloh Ta’ala itu sangatlah Kaya dalam artian tidak membutuhkan pada sesuatu apapun.

Sekarang kita tinggal mengulas Dalil menurut akal (Dalil ‘Aqli).

Dalil ‘Aqli

Adapun dalil (alasan) menurut akal yang menetapkan bahwa Alloh wajib di sifati oleh sifat Qiyamuhu binafsihi, yaitu ada dua dalil :

  1. Alloh kaya (sugih) sebab Dzat-Nya.
  2. Alloh Kaya dari Mukhoshshish ( مُخَصِّصْ ).
1. Alloh Kaya sebab Dzat

Dalil yang menetapkan bahwa Alloh itu disifati oleh Sifat Qiyamuhu binafsihi, yakni Sugih daripada Dzat itu begini :

Alloh itu kaya sebab Dzat-Nya (Qiyamuhu binafsihi), karena jika tidak demikian (sugih) atau tidak disifati oleh Sifat Qiyamuhu binafsihi, maka Alloh akan membutuhkan pada Dzat, jika Alloh membutuhkan Dzat, maka Alloh itu Sifat.

Jika Alloh disebut dengan Sifat, itu sangat Mustahil. Karena kalau sifat itu tidak akan bisa disifati oleh sifat Ma’ani dan sifat Ma’nawiyyah.

Baca juga : Sifat Ma’aniy dan sifat Ma’nawiyyah

Sedangkan jika Tuhan kita (Alloh) yang Maha Agung itu, wajib disifati oleh kedua sifat diatas⬆⬆⬆⬆⬆⬆⬆⬆⬆⬆⬆⬆. Karena dalil yang nyata, terbukti ciptaan-Nya yaitu Alam ini.

Dengan demikian maka Alloh itu bukanlah Sifat, jika Alloh bukan sifat maka Alloh itu Dzat. Jika Alloh Dzat, maka tidak akan membutuhkan pada Dzat yang lainnya. Oleh sebab itu maka Alloh wajib disifati oleh Sifat Salbiyyah yang ke empat (sifat Qiyamuhu binafsihi).

Jadi mustahil pula Alloh disifati oleh sifat kebalikannya sifat Qiyamuhu binafsihi, yaitu al-Ihtiyaju ilaal mahaali ( اَلإِحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِ ) Mustahil Alloh membutuhkan Dzat.

2. Alloh Kaya dari Mukhoshshish

Dalil yang kedua bahwa Alloh itu wajib disifati oleh sifat Qiyamuhu binafsihi (Sifat salbiyyah yang ke empat), yakni Maha Kaya dari Mukhoshshish (yang meng adakan atau menciptakan) itu seperti ungkapan :

Alloh itu disifati oleh Qiyamuhu Binafsihi yakni tidak membutuhkan pada yang menciptakan, karena jika tidak disifati oleh Qiyamuhu Binafsihi, sudah tentu akan butuh pula pada yang menciptakan-Nya.

Jika Alloh membutuhkan pada yang menciptakan, maka sudah pasti Alloh itu Baru, sementara jika Alloh baru maka itu Mustahil. Sebab Alloh itu disifati oleh sifat Qidam.

Silahkan dibaca : Dalil Sifat Qidam

Maka Mustahil Alloh itu Baru, jika Alloh Mustahil baru, maka mustahil juga Alloh membutuhkan pada yang memperbaharui-Nya.

ألإحتياج إلى المخصّص

Dengan demikian, Maka tetaplah kebalikan dari membutuhkan itu adalah Sugih (Maha Kaya) dari yang mengadakan atau menciptakan yaitu Sifat Qiyamuhu Binafsihi namanya ( sifat salbiyyah yang ke empat ) kalau dalam istilah ilmu Tauhid.

Yang dimaksud dari dari dalil yang mustahil ( ألإحتياج الى المخصّص ) yakni Mustahil Alloh membutuhkan pada yang menciptakan (mengadakan).

Kesimpulan

Walhasil dari Dalil ‘Aqli yang dua diatas yaitu Dalil sifat salbiyyah yang ke empat (Qiyamuhu binafsihi) :

  1. Alloh sugih dari Mahal (Alloh tidak membutuhkan Dzat ) ini telah dijelaskan dalam dalil yang pertama.
  2. Yang menjadi dalil bahwa Alloh sugih dari Mukhoshshish, yakni tidak membutuhkan pada yang menciptakan (mengadakan) itu ditetapkan oleh dalil yang kedua.

Sekarang lengkaplah sudah bahasan sifat salbiyyah yang ke empat atau Sifat Qiyamuhu binafsihi, dan sampai berjumpa kembali dalam bahasan sifat salbiyyah yang ke LIMA yaitu Sifat Wahdaniyyat.

Wallohu a’lam bish showaab.