Home » Aqoid Ilaahiyyat » Ilmu Tauhid » SIFAT IRADAT

SIFAT IRADAT

Posted at April 8th, 2018

Sifat Iradat, escincau.com. Assalaamu’alaykum warohmatulloohi wa barokaatuh… Sahabat Bang Thoyyib yang di Rahmati Alloh, Marilah bahasan Sifat Ma’ani ini kita lanjutkan kembali. Dalam pembahasan yang lalu kita telah melihat sedikit uraian dari Sifat Ma’ani yang pertama yaitu Sifat Qudrat, dan disana tertuang bahwa sifat Qudrat itu erat kaitannya dengan Sifat Iradat.

Baca terlebih dahulu : SIFAT QUDRAT

Supaya tidak bertele-tele mari langsung saja kita melangkah pada bahasan Sifat Iradat tersebut, dan sebagai bahan bahasan alangkah baiknya kita ketahui apa saja yang akan dibahas saat ini. Yang akan kita bahas itu ada beberapa poin sahabatku diantaranya ;

  1. Pengertian sifat Iradat
  2. Ta’alluqnya sifat iradat
  3. Masalah Amar dan Iradat
  4. Dalil Sifat Iradat

PENGERTIAN SIFAT IRADAT

Yang disebut dengan sifat Iradat itu adalah :

صِفَةٌ وُجُوْدِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهٖ تَعَالٰى تُخَصِّصُ الْمُمْكِنُ بِبَعْدِ مَايَجُوْزُ عَلَيْهِ

Artinya : Sifat iradat itu adalah sifat yang ada, yang Qodim, yang berdiri pada Dzat Alloh Ta’alaa, yang menentukan Mumkin pada sebagian yang wenang pada Mumkin itu sendiri.

Sifat Iradat

Dalil sifat Qudrat : “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.”

1. Penjelasan dari Sifat Iradat

Penjelasan dari pengertian sifat Iradat diatas itu sebagai berikut : Satu Mumkin / Makhluk sebelum diciptakan itu sangat pantas jika Putih, hitam, dan lain sebagainya. Atau juga pantas jika Pendek, tinggi, diatas, dibawah.

Jika Alloh telah menentukan untuk Putih, maka warna hitam, hijau, merah kuning itu tidak akan ada. Dan juga jika Alloh telah menentukan untuk Tinggi, maka pendek tidak akan ditemui. Nah yang menentukan demikian itu oleh sifat Iradat-Nya, yaitu yang disebut dengan Tanjiizii Qodiim.

Jadi Ta’alluqnya Tanjiizii Qodiim itu hanya pada sebagian yang Wenang (Jaiz), yaitu tidak pada keseluruhan Mumkin. Contohnya : Jika Alloh menentukan Ki Zaid itu tinggi, maka tidak akan kita temui pendeknya ki Zaid. Dalam artian tidak akan berbarengan antara tinggi dan pendeknya ki Zaid, padahal itu Sah-sah saja jika mau pendek ataupun tinggi juga.

Jadi untuk Ta’alluqna Iradat itu Takhshish (Khusus), yaitu hanya kepada sebagian dari yang wenang pada Mumkin tersebut.

Lihatlah keterangan : Mumkin

2. Ta’alluq Sifat Iradat

Selanjutnya setelah kita mengetahui pengertian dari sifat Iradat, sekarang kita melangkah lagi pada uraian Ta’alluqnya. Jika kita melihat dari daftar ini

 

Dalam tabel ini kita bisa melihat bahwa Sifat Iradat itu mempunyai dua Ta’alluq, diantaranya :

  1.  Shuluhii Qodiim
  2. Tanjiizii Qodiim

Mari kita uraikan satu persatu dari Dua poin diatas.

1. Shuluuhii Qodiim

Yang dimaksud dengan Shuluuhii Qodiim adalah siap sedia / lulus / mampu Alloh Subhaanahuu wa Ta’aala dari zaman azali oleh sifat Iradatnya dalam menentukan seluruh Mumkin. Ditentukannya itu pada setiap elemen yang Wenang (Jaiz) pada mumkin tersebut.

Kita lihat saja contoh ini ; “Dijelaskan bahwa satu mumkin itu mau di tinggikan ataupun direndahkan (dipendekkan) itu sah-sah saja, dan juga mau diputihkan di hitamkan, difaqirkan dikayakan juga sama sah adanya.

Jadi dari contoh diatas bisa kita simpulkan bahwa Shuluuhii Qodiim itu tidak memastikan kepada salahsatunya.

2. Tanjiizii Qodiim

Tanjiizii Qodim artinya : Menentukan (memfokuskan)nya Iradat pada sebagian yang Wenang daripada Mumkin. Yakni sudah dipastikan (ditentukan) dari zaman azali satu persatunya Mumkin pada sebagian Mumkin yang Wenang adanya.

Supaya tidak salah pengertian, mari kita ambil contoh saja. Contohnya seperti berikut ini : Jika Alloh menentukan (memastikan) untuk pendek, maka tidak akan ada tinggi, jika ditentukan untuk pintar maka bodoh tidak akan ada.

Sebab tidak mungkin bisa bersatu jika perkara itu belawanan atau bertolak belakang dalam satu Mumkin dan dalam waktu yang bersamaan pula.

Jadi Tanjiizzii Qodiim itu sudah ditentukan dari zaman azali, yakni sudah dipastikan kepada setiap Mumkin / makhluk oleh Iradatnya Alloh. Kita bikin contoh lagi, seperti : Ki Zaid itu akan dilahirkan / diciptakan dalam keadaan pinta.

Nah disana yang menentukannya itu adalah Iradat, dan yang melahirkan atau Ibraznya Ki Zaid pintar itu adalah Qudrat. Tapi harus di ingat bahwa Iradat itu Takhshish (menentukan) sementara kalau Mukhoshshish atau yang menenentukannya adalah Dzaatul Aqdaas yaitu Alloh yang di sifati oleh Iradat.

Seperti Qudrat itu Ta_tsiir atau Ibraaz (menapaki atau melahirkan), adapun Muatstsir (yang mempunyai bekas) itu Dzaatul Aqdaas yaitu Alloh yang disifati oleh Sifat Qudrat.

Sebab bisa menjadi Kufur jika orang yang meyakini bahwa Qudrat itu punya bekas (bisa mendhohirkan) atau bisa menentukan, seperti apa yang dibahas dalam sifat Qudrat.

[WaQIILA]

Menurut salahsatu Qaul, Iradat itu mempunyai Ta’alluq satu lagi yaitu Tanjiizii Hadits yang artinya menentukannya iradat kepada Mumkin disaat menciptakan (mengadakan) atau mentiadakan Mumkin.

Tapi jika mengacu pada Qaul yang Tahqiq itu, Ta’alluq yang tadi (Tanjiizii Hadits) bukanlah Ta’alluq tersendiri, tapi itu hanya pembuktian dari Ta’alluq Tanjiizii Qodiim. Maka tetaplah Ta’alluq Iradat itu hanya Dua.

Muta’allaq Sifat Iradat

Adapun yang Di Ta’alluqi oleh sifat Iradat, itu sama denga yang di Ta’alluqi oleh sifat Qudrat. Yaitu Mumkiinaat mutaqoobilaat yang enam.

Silahkan lihat dalam postingan : SIFAT QUDRAT

Dan juga sifat Iradat ini tidak pernah Ta’alluq pada Wajib serta Mustahil, hanya saja ada perbedaannya. Dan perbedaannya itu adalah; Jika Qudrat itu Ta_tsir (membekaskan) Ibraz, atau melahirkan, semantara kalau Iradat itu menentukan (memastikan).

Jadi disana kita pada saat mengartikannya Iradat itu diartikan terlebih dahulu daripada Qudrat, sebab kalau kita itu Iradat (merencanakan) Qudrat itu (melaksanakan) apa yang direncanakan tersebut.

Tapi kalau untuk sifat Alloh itu tidak ada istilah saling mendahului, hanya saja dalam Ta’alluqnya ada istilah saling mendahului. Karena semua Mumkin juga sudah ada ketentuannya (dipastikan oleh Alloh) dari zaman azali oleh sifat Iradatnya yang disebut dengan Tanjiizii Qodiim.

Terus sekarang dibuktikan oleh Qudratnya, yakni segala rupa yang telah ditentukan (dipastikan) itu adalah Ibraz dari Qudrat Tanjiizii Hadits pada Takhshish (Iradat Tanjiizii Qodiim).

Dan jika mengacu pada sebagian Ulama lagi, Kalau Ta’alluq Tanjiizii Qodiimnya Iradat itu disebut dengan QODLO ( قَضَاء ), Kalau Ta’alluq Tanjiizi Hadits Qudrat / Ibraz itu disebut dengan QODAR (قَدَرْ ).

MASALAH QODLO DAN QODAR AKAN ADA DALAM BAHASAN TERSENDIRI NANTI

3. Masalah Amar dan Iradat

Selanjutnya yang akan kita bahas disini adalah Masalah Amar dan Iradat, jika kita mengacu dan konsisten kepada Faham Ahlus sunnah wal Jama’ah itu mengandung arti, Amar = Perintah, Iradat = Berkehendak.

Dengan demikian penganut Aqidah Ahlus sunnah menyatakan bahwa Amar dan Iradat itu berbeda, sebab kalau Amar (Perintah) itu dikhususkan kepada setiap hal (perkara) yang baik. Dan kalau Iradat ( Berkehendak ) itu mencakup segala perkara, yakni pada perkara yang baik dan jelek juga.

Jadi dalam hal ini terkadang ada Iradat ada Amar, tidak ada Iradat tidak ada Amar, tidak ada Iradat ada Amar, ada Iradat tidak ada Amar. 

Sekarang mari kita kasih penjelasan atau contoh dari empat kutipan diatas. Yaitu :

  • Ada Iradat, Ada Amar

Seperti apakah Contoh dari Ada Iradat ada Amar ? Yaitu seperti Imannya Abu Bakar ash-Shiddiq, yang mana Abu Bakar itu dikehendaki untuk Beriman serta diperintah untuk Beriman.

  • Tidak Ada Iradat, tidak Ada Amar

Untuk contoh yang kedua ini saya mohon dibaca baik-baik biar tidak salah persepsi, dan yang menjadi contohnya adalah seperti Kufurnya Sayyidina Abu Bakar.

Penjelasannya : ” Sayyidina Abu Bakar itu tidak dikehendaki untuk jadi orang Kufur serta tidak diperintah untuk Kufur”. Jadi jelaslah disini tidak ada Iradat (kehendak), dan tidak adapula Amar (perintah).

  • Tidak Ada Iradat, tapi Ada Amar

Untuk contoh yang ini seperti Iman bagi Abu Jahal, alasannya sebagai berikut ; ” Abu Jahal itu tidak Dikehendaki untuk beriman, tapi tetep Diperintah supaya beriman”. Jadi dalam hal ini kita bisa mengetahui bahwa tidak ada kehendak (Iradat) tapi ada Perintah (Amar).

  • Ada Iradat, tapi tidak Ada Amar

Untuk contoh yang terakhir adalah, seperti Kufurnya Abu Jahal. Begini Penjelasannya ” Abu Jahal itu Dikehendaki untuk menjadi orang yang Kufur, tapi tidak ada Perintah untuk kufur kepada Abu Jahal. Jadi disini bisa kita artikan Ada Kehendak tapi tidak ada Perintah.

  • Walhasil

Dari empat poin diatas kita bosa mengetahui tentang apa itu perbedaan antara Iradat dan Amar, dengan demikian maka :

Setiap perkara yang terbukti, entah itu baik maupun jelek semuanya ada dalam kehendak Alloh (Iradat Alloh).

Dan bisa kita simpulkan serta kita Fahami bahwa : Amar itu hanya diperuntukkan pada hal yang baik, karena Alloh tidak pernah memberi perintah untuk melakukan hal yang buruk tapi itu tetap dalam naungan kehendak Alloh.

Tapi walaupun demikian kita tidak diperbolehkan untuk mengucapkan : ” Saya bermaksiat atau berzina, itu sudah kehendak Alloh”. Itu tidak Sopan.

Terkecuali ucapan tersebut diungkapkan pada saat di Maqom Ta’lim (ketika ngasih contoh saat pengajian), selain itu tidak diperbolehkan karena Suul adab (tidak sopan).

Jadi perkara yang buruk itu harus diakui bahwa itu mutlak kehendak kita, dan hasil kerja kita alasannya supaya kita punya keinginan untuk bertaubat. Tapi walaupun demikian dalam keyaqinan kita harus tetap dengan pendirian bahwa semuanya atas kehendak Alloh.

  • Makna sifat Iradat 

Adapun makna dari sifat Iradat adalah Alloh yang Maha Berkehendak, dan lawannya adalah al-Karohah (Terpaksa).

Terpaksa disini mempunyai arti bahwa ada suatu perkara dari Alam ini serta tidak dikehendaki, atau ada satu perkara yang jelas-jelas ada dan nyata serta Alloh lupa, atau ada juga yang disebut dengan TA’LIIL dan THOB’UN.

TA’LIIL

Yang disebut dengan Ta’liil adalah ; TerJadinya suatu perkara, dari perkara yang lainnya dengan tidak di Iradat oleh Alloh Subhaanahu wa Ta’alaa, serta tidak menunggu pada adanya syarat tidak adanya Maani’ (Penghalang).

Kita ambil contoh saja ya biar gak bingung ;

Bergeraknya jari dan bergeraknya Cincin.

Menurut fahamnya orang sesat dalam aqidah itu seperti ini ; Bergeraknya jari itu menjadi ‘Ilat pada bergeraknya cincin, maksudnya begini : Bergeraknya Jari itu mutlak atas kehendak Alloh, sementara kalau geraknya Cincin mah oleh jari. Jadi dalam konteks ini Alloh disebut dengan ‘Ilatul ‘Ilal yakni (‘ilatnya dari beberapa ‘ilat).

Nah pendapat atau keyakinan seperti ini adalah pendapat yang sangat Sesat (BID’AH DLOLAALAH), sebab jika demikian Alloh itu tidak menghendaki akan bergeraknya Cincin yang dipakai oleh orang yang dikehendaki oleh Alloh untuk digerakkan jemarinya. Jika demikian bisa diartikan bahwa Alloh itu Terpaksa dan itu Mustahil bagi Alloh.

THAB’UN

Selanjutnya yang disebut dengan Thab’un adalah ; “Terjadinya suatu perkara dari perkara yang lainnya, oleh watak serta dzatnya perkara tersebut denga tidak dikehendaki tapi menunggu akan adanya syarat serta tiadanya maani’ “.

Biar mudah untuk kita fahami, kita angkat sebuah contoh saja,  ; ” Api itu bisa menggosongkan oleh dzatnya atau Thabi’atnya. Atau wataknya api itu tidak dikehendaki oleh Alloh, tapi Katanya ; jika ada Syarat serta Maani’ (yang mencegah)nya.

Syarat dan Maani’ yang mencegahnya itu Seperti basah, jadi bisanya menggosongkan jika terkena api disaat tidak ada basah (kering). Nah pendapat yang demikian itu  adalah pendapat yang jelas keKufurannya, sebab jika demikian (gosongnya itu oleh dzat atau Thabi’at api, bukan atas kehendak Alloh Subhaanahu wa ta’ala.

Jadi jika mengacu pada pendapat tersebut diatas, maka Alloh itu terpaksa (tidak Iradat), padahal Alloh disifati oleh sifat Iradat (Maha Berkehendak).

PERBEDAAN ANTARA TA’LIIL DAN THAB’UN ( dalam sifat Iradat )

Perbedaan antara Ta’liil dan Thab’un yang sangat erat dalam penjelasan sifat Iradat adalah sebagai berikut :

Kalau Ta’liil itu langsung ( tidak menunggu adanya Syarat serta Alloh yang dijadikan ‘Ilat.

 

Kalau Thab’un itu menunggu kepada adanya wujud syarat, hilangnya Maani’ (yang mencegah), serta telah lepas (tidak ada hubungan lagi dengan Alloh).

Nah dua kutipan diatas yaitu Ta’liil dan Thab’un, itu adalah pendapatnya orang yang disesatkan oleh Alloh subhaanahu Wa Ta’ala. Maka janganlah kita ikuti sebab pendapat yang demikian itu adalah pendapatnya Ahli Bid’ah Dlolalah dan pendapatnya orang Kufur ( نعوذ بالله من ذالك ).

Jadi Aqidah kita itu ( Aqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah), meyakini dan berpegang teguh bahwa “Segala apa yang nampak di alam jagat raya ini, tidak ada yang keluar dari Iradat dan Qudratnya Alloh Subhaanahu wa Ta’ala”.

Baca juga : “Aqidah Ahlus sunnah yang shohiih”.

DALIL SIFAT IRADAT

Tanpa basa-basi, bagian yang terakhir dalam sifat Iradat adalah Dalilnya. Dan dalam penyampaiannya ada dua metode ;

  1. Dalil Naqli
  2. Dalil ‘Aqli

Dari kedua dalil tersebut, marilah kita lihat perncian singkatnya.

Dalil Naqli sifat Iradat

Dalil Naqli ( dalil Qur’an ) yang mengukuhkan akan sifat Iradatnya Alloh adalah Firman-Nya yang tertuang dalam surat al-Qoshoshos ayat 68:

وَرَبَّكَ يَخْلُقُ مَايَشَاءُ وَيَخْتَارُ

Artinya : Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.

Dan juga yang menjadi dalil sifat Iradat itu tertuang juga dalam surat al-Buruuj ayat 16 :

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيْدُ

Artinya : Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Nah dari kedua ayat tersebut menjadi alasan atau Dalil Naqli (al-Qur’an)nya sifat Iradat. Dari dua aya tersebut maka kuatlah sudah penjelasan sifat Maani yang kedua ini, dan selanjutnya tinggal menyampaikan dalil ‘aqlinya.

Dalil ‘aqli sifat Iradat

Setelah mencantumkan Dalil Naqli dari sifat Iradat, jika masih belum cukup kuat maka kita tuangkan pula Dalil ‘Aqlinya (akalnya).

Adapun dalil aqli yang menunjukkan bahwa Alloh wajib Iradat adalah Adanya Alam ini, Susunan dalilnya seperti ini :

Alloh itu disifati oleh sifat Iradat, sebab jika tidak disifat oleh Iradat maka yang mensifatinya adalah lawannya yaitu Karohah ( كراهة ) yakni terpaksa atau tidak menghendaki.

Jika Alloh tidak Menghendaki (terpaksa) itu Mustahil,  sebab jika Alloh Karohah sudah tentu tidak akan disifati oleh sifat Qudrat, sebab sifat Qudrat itu termasuk cabangnya dari sifat Iradat secara logika.

Jika alloh tidak disifati oleh Sifat Qudrat maka Alam ini tidak akan ada, serta tiadanya Alam ini adalah batal (tidak bisa dimengerti) karena menyelisihi panca indra kita. Sebab terbukti bahwa alam ini nyata, dengan demikian maka tetaplah harus Qudrat dan batal apes/lemahnya Alloh.

Terus jika tidak ada Apes/lemah, maka tentu tidak ada pula Karohah (terpaksa/tidak berkehendak). Dengan demikian maka tetaplah Alloh harus disifati oleh lawannya Karohah yaitu Sifat iradat.

Maka jika Alloh wajib ketetapan oleh Sifat Iradat, maka Mustahil Alloh Karohah (terpaksa/tidak berkehendak). Yaitu lawannya Iradat.

Kesimpulan dari sifat Iradat

Untuk kesimpulan ini tidak akan banyak yang diutarakan, tapi dicukupkan dengan sebuah Tabel dari sifat Iradat.

Sifat Iradat

Tabel Sifat Iradat

Nah Sahabatku sampai disini uraian dari sifat Iradat, semoga dengan sedikit penjelasan ini memberi sedikit wawasan bagi kita semua.

Wallohu a’lam

Dan jika terdapat kesalahan dalam menuangkan catatan ini silahkan corat-coret disini.

Click here for more information about "SIFAT IRADAT"

Wooww, very nice! I want to share this Article!
facebook
twitter
stumbleupon
Delicious
reddit
Digg

Write your comment about SIFAT IRADAT


Related post to SIFAT IRADAT