Senin, Juni 25

SEBAB-SEBAB MENURUT ADAT

escincau.com Sebab-sebab menurut adat, Assalaamu’alaykum warohmatulloh Bismillaah Alhamdulillaah Ash-sholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaah Laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Sahabat Bang Thoyyib Yang di Rahmati Alloh.

Mari kita lanjutkan kembali bahasan kita yang masih menguliti Sifat Wahdaniyyat-Nya Alloh yang masih panjang sangat bahasannya, dan disini kita sangat dianjurkan untuk mengetahui salah satu bahasan sebab-sebab menurut adat (hukum adat).

Uraian sebab-sebab menurut adat

Tanpa panjang lebar berbasa-basi, mari kita langsung saja kepokok bahasan sebab-sebab menurut adat tersebut. Yang disebut dengan asbaabul ‘aadiyyat (sebab-sebab menurut adat adalah tidak memberi bekas apapun pada musababnya, tapi disana Alloh biasa menciptakan pada adanya musabab(yang diberi sebab) tersebut.

Yakni pada saat ada suatu sebab, tapi bukan oleh sebab itu sendiri. Biar tidak rumit untuk difahami, kita ambil contoh saja : Api tidak membuat (mengakibatkan) gosong, tapi biasanya Alloh mebuat menggosongkan disaat menyentuh api tersebut. Tapi perlu di ingat gosongnya itu bukan oleh api itu sendiri, tetapi digosongkan oleh Alloh.

Karena jika Alloh tidak menggosongkannya walaupun menyentuh api, atau dibakar sekalipun tidak akan mengakibatkan gosong. Seperti yang tertuang dalam sejarah Nabi Ibrohim yang jelas-jelas dibakar oleh Raja Namrudz.

Adapun yang disebut dengan sebab adat itu adalah :

Suatu lantaran yang biasa dilakukan (ditemui) setiap hari.

Yang disebut dengan Musabbab adalah :

Yang dijadikan Objek dari Sebab.

Terus yang disebut dengan Ta’tsir atau juga akibatnya adalah :

Hasil daripada sebab tersebut atau juga reaksinya dari sebab.

Supaya tidak membingungkan, mari kita lihat tabel berikut ini :

Sebab-sebab menurut adat
Tabel sebab-sebab menurut adat

Madzhab yang menyikapi sebab-sebab menurut adat

Pada masalah ini (sebab-sebab menurut adat), kita menjumpai Empat Madzhab yang berbeda. Dan dari ke empat Madzhab tersebut sangat dianjurkan untuk kita ketahui semuanya supaya kita bisa membedakan mana madzhab yang benar, dan mana madzhab yang salah.

Karena ada Pribahasa yang menyebutkan :

مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشَّرَ يَقَعْ فِيْهِ

Artinya : Barang siapa yang tidak mengetahui akan suatu kejelekan, maka suatu saat dia akan terjerumus kesana (kejelekan tersebut).

Makanya disini akan diuraikan satu persatu dari Empat Madzhab yang menyikapi masalah Sebab-sebab menurut adat, dari ke empat Madzhab tersebut diantaranya :

1. Madzhab Falasifah

Yang diyakini oleh Madzhab Falasifah ini sebagai berikut :

Bahwasannya sebab adat itu bisa mengakibatkan pada Musabbabnya itu oleh dzatnya sebab itu sendiri, contohnya ; Api itu bisa menggosongkan karena api itu sendiri. Begitu juga dalam makanan, obat, dan senjata. Bisa memberi bekas oleh dzatnya.

Nah keyakinan yang seperti itu bisa menjerumuskan kita pada keKufuran, dengan kesepakatan para ulama bahwa orang yang mempunyai keyakinan seperti contoh diatas, maka dia termasuk kedalam kategori orang -orang Kafir.

2. Madzhab Ahli Bid’ah

Adapun dalam madzhab Ahli Bid’ah disaat menyikapi sebab-sebab menurut adat itu seperti ini ; Sebab Adat itu tidak memberikan bekas oleh Dzatnya sendiri, tapi Alloh_lah yang telah menciptakan kekuatan pada Sebab itu, yang mana dengan adanya kekuatan itu bisa memberikan bekas (akibat).

Sebab jika kekuatan itu dicabut oleh Alloh Subhaanahu wa ta’alaa, maka tidak akan ada bekasnya, contohnya seperti ; Makanan tidak bisa mengenyangkan, obat tidak bisa menyembuhkan, dan contoh- contoh yang lainnya.

Nah bagi orang yang mempunyai prinsip serta keyakinan seperti ini, mereka termasuk kedalam kategori orang Fasiq dan ahli bid’ah, sebab jika bersikukuh berkeyakinan seperti itu maka sama halnya bahwa Alloh itu membutuhkan pada Sebab.

Tapi jika menurut Qaul yang Shohih, tidak sampai kepada derajat Kufur.

  • Yang sejenis dengan keyakinan serta prinsip diatas adalah ; Orang yang meyakini bahwa seorang Abdi atau Hamba, memiliki bekas atau akibat dari yang dikerjakannya hanya mengandalkan keahlian Abdi tersebut.

Padahal keahlian atau pengetahuannya itu jelas- jelas didiciptakan oleh Alloh subhaanahu wa Ta’alaa, dan dianugrahkan padanya.

  • Ada lagi yang sama persis dengan keyakina diatas, bahwa sebab adat itu bisa membekas atas izin Alloh, seperti; Mengakibatkan gosongnya Api, atas izin Alloh. Makanan mengenyangkan, atas izin Alloh, dan contoh- contoh yang lainnya.

Nah orang yang berprinsip seperti itu, mereka termasuk kedalam golongan ahli Bid’ah, dan menurut sebagian Ulama berpendapat bahwa yang demikian itu bisa mejerumuskan pada ke Kufuran.

Tapi jika menurut Qaul Rajih, tidak sampai kepada derajat Kufur karena masih ada sandaran kepada Alloh dan tidak terlepas seperti prinsipnya Madzhab Falasifah.

3. Madzhab Mu’min Jahil (yang masih bodoh)

Dalam menyikapi sebab-sebab menurut adat tersebut ada juga yang masih Jahil (kurang cerdas) dalam pemahamannya, dan mereka pun punya kalangan( Madzhab ) tersendiri.

Yang difahami (diyakini) oleh madzhab ini adalah mereka berprinsip : Antara sebab dan musabbab itu talazum ‘aqli, yakni memastikan bahwa setiap ada sebab harus ada musabbab.

Contohnya seperti ; Setiap terkena oleh api pasti gosong, setiap makan pasti kenyang, dan itu sudah menjadi suatu kepastian. Nah pemahaman seperti itu disebut dengan :

ضَالٌّ مُبْتَدِعٌ جَاهِلٌ

Artinya : Sesatnya Ahli bid’ah dan bodoh akan Haqiqatnya hukum adat.

Padahal yang disebut dengan hukum adat itu berkaitannya suatu perkara dengan perkara yang lainnya, serta tidak mempunyai bekas (akibat) sedikitpun dan sangat sah untuk salah.

Contohnya seperti : Kadang terkena senjata tajam tapi tak terluka sama sekali, atau pula terluka tapi tidak terkena senjata. Atau juga ada obat tapi tak ada sembuh, ada juga yang sembuh tanpa adanya obat. Atau juga ada hangat tak berselimut tapi tak sedikit ada selimut tapi hangat tak kunjung ada.

Nah prinsip dan keyakina seperti poin ketiga ini, tidak menyebabkan pada kekufuran menurut kesepakatan para ulama. Tapi berhubung sebab kebodohannya terkadang menarik untuk terjerumus pada Kufur.

Seperti menolak akan perkara yang tidak seperti biasa ditemuinya sehari-hari ( tidak sesuai dengan adat yang ada), seperti menolak akan adanya Mukjizat para Nabi, Karomah (kekeramatan) para Wali, atau menolak akan adanya Ba’tsun (dibangkitkan dari alam kubur).

Terkecuali Jika berkeyakina seperti itu, maka sudah sangat jelas kekufurannya.

4. Madzhab Mukmin yang Selamat

Dari ke empat madzhab yang mensikapi sebab-sebab menurut adat adalah Kelompoknya (Madzhab)nya orang Mukmin yang selamat (shohih).

Adapun madzhab Mukmin Saliim adalah madzhabnya Ahlus sunnah wal Jama’ah. Madzhab ahlus sunnah wal Jama’ah ini betkeyakina serta mempunyai prinsip bahwa sebab- sebab menurut adat itu adalah Sebab itu tidak memiliki akibat sedikitpun.

Dan bukan pula kekuatan yang diciptakan oleh Alloh yang disematkan pada Sebab itu sendiri, yang sah untuk salah.

Kalau yang diyakini oleh Madzhab Ahlus sunnah wal Jama’ah itu antara sabab dan musabbab itu Talazum ‘adiy yakni sangat sah untuk salahnya (adanya sabab tapi tidak ada musabbab atau sebaliknya) adanya musabbab tanpa adanya sabab. Dan hanya Alloh_lah yang memiliki akibat.

Hanya saja dalam hal ini, Alloh biasanya menciptakan atau memberikan musabbab disaat ada sebab.

Contohnya seperti ; Membikin gosong disaat terkena api, tapi yang perlu di ingat itu bukanlah gosong oleh dzat api itu sendiri, melainkan digosongkan oleh Alloh pada saat terkena api.

Dan juga adanya kenyang bukan karena sebab makan,terluka bukan karena sebab terkena senjata tajam, dan sembuh bukan karena obat, tapi yang mengenyangkan, melukai serta menyembuhkan itu mutlak diberikan oleh Alloh subhaanahu wa ta’ala semata.

Selain alasan tersebut sangat sah pula untuk salah (bertolak belakang), sebab tidak masalah pula jika gosong tidak terkena api, atau terkena api tidak gosong. Ini sama persis dengan Mukjizatnya Nabiyulloh Ibrahim ‘alayhis salaam.

Nah keyakinan seperi inilah yang harus dijadikan acuan serta kita pegang teguh, serta harus kita ikuti karena hanya pemahaman yang ini yang akan menyelamatkan kita kelak.

Terus jika ada orang yang berkeyakinan tidak sama dengan keyakinan yang poin ke Empat, maka sudah jelas bahwa dia tidak layak untuk disebut sebagai Ahlus sunnah wal Jama’ah.

Walaupun secara lisan dia mengakui dan mengembar-gemborkan bahwa dialah yang paling ahlus sunnah wal Jama’ah, padahal dalam hal ini hanya Ahlus sunnah wal Jama’ah_lah yang jelas keyakinannya terselamatkan.

Dan pemahaman Ahlus sunnah wal Jama’ah itu adalah pemahaman yang kita pegang teguh karena pemahaman ini seiring sejalan dengan I’tiqad Rasululloh Shollallohu ‘alayhi wasallaam beserta para Shahabat-sahabatnya.

Kesimpulan sebab-sebab menurut adat

Setelah panjang lebar kita membahas sebab-sebab menurut adat, sekarang bisa kita simpulkan bahwa ; dalam masalah ini ada empat kelompok yang menyikapinya.

  1. Madzhab falasifah
  2. Madzhab ahli bid’ah
  3. Madzhab muslim Jahil(bodoh)
  4. Madzhab Ahlus sunnah wal Jama’ah

Dari empat madzhab diatas, hanya ada satu madzhab yang berkeyakinannya seiring sejalan dengan keyakinan Rasululloh shollallohu ‘alayhi wasallam beserta para Shahabat-sahabatnya yaitu Madzhab Ahlus sunnah Wal Jam’ah.

Sampai disini bahasan yang bisa saya sampaikan dalam masalah sebab-sebab menurut adat, dan bahasan sifat Wahdaniyyat itu masih belum terselesaikan karena masih ada satu bahasan lagi yaitu Dalilnya sifat Wahdaniyyat.

Insya Alloh jika Alloh masib memberi umur panjang dan kesempatan, akan kita bahas di postingan yang akan datang.

Wallohu a’lam.

One Comment

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: