(escincau.com) Assalaamu’alaykum warohmatullohi wa barokaatuh, Sahabat Bang Thoyyib yang di Rahmati Alloh, Pada kesempatan kali ini kita akan mengulas tentang Masalah Qodlo dan Qodar. Dan bahasan ini sebagai bukti dari postingan yang telah kita lewati, yaitu tertuang dalam kutipan Sifat Iradat.

Baca dahulu : SIFAT IRADAT

Alasan pembahasan Qodlo dan Qodar dibuat terpisah karena ini sangat berhubungan dengan Sifat Ma’ani yang Tiga, yaitu :

  1. Sifat Qudrat
  2. Sifat Iradat
  3. Sifat Ilmu

Dan kita dituntut untuk meyakini bahwa segala rupa perkara yang sudah terbukti atau hendak dibuktikan, entah itu perkara yang jelek ataupun baik, maka itu semua merupakan Qodlo dan Qodar dari-Nya. Yakni telah dipastikan dari zaman Azali, dan dikehendaki oleh Alloh Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan itu sesuai dengan Firman Alloh yang tertuang dalam surat ar-Ra’du ayat 8 :

وَكُلُّ شَيْئٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ

Artinya :  Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.

Dan juga seperti yang didawuhkan oleh Mustika Alam yaitu Kanjeng Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alayhi wasalam yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ بِاللّٰهِ حَتّٰى يُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهٖ وَشَرِّهٖ ( رواه الترمدى )

Artinya : Seorang hamba belum dikatakan beriman kepada Alloh sehingga dia beriman kepada bagus dan jeleknya sebuah kepastian dari Alloh (Qodar).

Arti Qodlo dan Qodar

 

qodlo dan qodar
masalah Qodlo dan Qodar

Dalam mengArtikan Qodlo dan Qodar bagi para Ulama ada beberapa pendapat, tapi kalau menurut pendapat Ulama yang Masyhur, itu ada pendapat diantaranya :

  • Qodlo dan Qodar menurut Madzhab Imam Al-Asy’ari

Pendapat yang pertama dikemukakan oleh Imam Al-Asy’ariy yaitu yang disebut dengan Qodlo adalah Iradatnya Alloh subhaanahu wa ta’ala serta Ta’alluqnya itu dari zaman Azali, akan segalarupa perkara (yang akan diciptakan{diadakan} atau ditiadakan, yang disebu dengan Tanjiizii Qodiim Iradat.

Dan kalau yang disebut dengan Qodar adalah Alloh mengadakan (menciptakan) pada segalarupa perkara itu dengan ukuran yang telah ditentukan serta sesuai dengan Iradatnya. Jadi Iradatnya Alloh yang Ta’alluq dari zaman Azali pada seseorang, bahwa dia akan menjadi raja (contohnya). Nah itulah yang disebut dengan Qodlo.

  • Qodlo dan Qodar menurut sebagian Ulama yang lainnya

Qodlo menurut sebagian ulama yang lainnya adalah Ilmunya Alloh Subhaanahu wa Ta’ala dari Zaman Azali, dan Ta’alluqnya pun pada segala yang Ma’lum yakni segala yang diketahui (Tanjiizii Qodiim).

Adapun yang disebut dengan Qodar adalah menciptakan (mengadakan)nya Alloh subhaanahu wa Ta’ala pada segalarupa perkara yang menyepakati pada Ilmu-Nya.

Seperti Ilmunya Alloh yang Ta’alluq dari Zaman Azali bahwa Ki Zaid akan menjadi orang yang pintar setelah keberadaan ki Zaid, nah yang demikian itu disebut dengan Qodlo. Adapun memberikan kepintaran kepada Ki Zaid itu setelah ki Zaid terlahir (ada) didunia, nah yang demikian itu disebut dengan Qodar.

Maka Qodlo itu sesuatu yang Qodim bukan sesuatu yang baru, sebab yang disebut dengan Azali itu tidak adanya permulaan, baik menurut pada pertama yang menyatakan bahwa Qodlo itu Iradat dan Ta’alluqnya Tanjiizii Qodiim. Begitupun menurut Qaul yang kedua yang menyatakan bahwa Qodlo itu Ilmunya Alloh yang Ta’alluqnya Tanjiizii Qodiim.

Dengan demikian maka tetaplah Qodlo itu Qodim, sebab sifat dari beberapa sifat-Nya Alloh subhaanahu wa ta’ala. Adapun kalau Qodar itu Hadits (Baru), sebab Iijaad (Mengadakan /membuktikan/ menyatakan) yakni pembuktian saat ini atau juga disebut dengan Ibraaz yaitu Ta_tsir Qudrat yang menyepakati kepada Takhshiish Iradat dan Inkisyafnya Ilmu.

Kalau Iijaad dan I’daam itu termasuk kedalam Tanjiizii Hadits Qudrat, atau Ta’alluq bil Fi’li jadi termasuk kedalam sifatul af’al dengan demikian maka Qudrat itu Baru.

Walhasil

Qodlo itu Mubrom ( tidak dirubah) lagi mengacu pada Iradat dan Ilmunya Alloh dari Zaman Azali yang pasti akan terbukti, yakni pasti di Qodar. Hal ini seperti Firman Alloh yang tertuang dalam surat Al-Furqon ayat 2 :

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْئٍ فَقَدَرَهُ تَقْدِيْرًا

Artinya : dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.

Adapun kalau kepastian yang ditulis di Lawhul-Mahfudh itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Mubrom yang artinya tidak dirubah lagi.
  2. Mu’allaq yang artinya bisa dirubah sesuai kehendak Alloh serta Ilmu-Nya.

Keterangan yang sangat kuat dari dua poin diatas adalah Firman Alloh yang tertuang dalam surat Ar-Ra’d ayat 39 :

ِيَمْحُواللّٰهُ مَايَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ اُمُّ الْكِتَاب

Artinya : Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

Jadi segalarupa perkara entah itu bahagia atau celaka, kufur ataupun Iman, kaya ataupun Faqir, pintar atau juga bodoh, dan lain sebagainya, itu sudah dipastikan oleh Alloh ( Qodlo yang tidak bisa dirubah).

Tapi walaupun demikian, kita tidak diperbolehkan hanya mengacu kepada Qodlo, sebab kita ini diperintah untuk selalu berikhtiyar (kasab Tha’at) pada perintah Alloh. Yang kesemuanya itu menjadi tanda.

Karena mengacu pada Firman Alloh dalam surat Al-Isro ayat 83 :

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖ

Artinya : Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing” (bisa dilihat dalam kitab Tafsir Jamal hal.644 juz 2, secara rinci menjelaskan tafsiran dari ayat ini).

Sebagai kutipannya : Sesungguhnya, manusia itu akan mengerjakan sebuah kesepakatan dengan ruhnya, kalau ruhnya itu hendak celaka. Dengan demikian maka dia akan beramal sesuai dengan amal-amalan orang yang akan celaka.

Dan jika ruhnya itu dicadangkan untuk menjadi orang yang selamat, maka dia secara Allohmatis akan melakukan amalan-amalannya orang yang akan selamat dunia akhirat.

Dan ini semua mengacu kepada dawuhan Kangjeng Nabi Muhammad Shollalloohu ‘alayhi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah : 41  :

اِعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Artinya : Beramallah kalian semua, karena masing-masing amal perbuatan akan dipermudah sesuai dengan taqdir yang telah dipastikan baginya.

Maka bisa kita fahami dari hadits diatas begini :

Jika seseorang telah digariskan oleh Alloh untuk menjadi orang yang bahagia dunia akhirat,maka dia akan digampangkan dalam beriman, dalam keTa’atan beribadah, dan tentu akan giat dalam mempelajari Ilmu Agama.

Ungkapan Qodlo dan Qodar diatas mengacu pada sebuah Hadits :

مَنْ يُرِدِاللّٰهُ بِهٖ خَيْرًا يُفَقِّهُ فِى الدِّيْنِ

Artinya : Barang siapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Alloh, maka Alloh akan memberi kemudahan kepadanya untuk mengerti segala urusan agama karena Ta’at Ibadah.

Karena sebuah keTa’atan kepada Alloh tidak SAH jika tidak memakai Ilmu.

Dan juga sebaliknya jika seseorang itu telah digariskan oleh Alloh untuk menjadi orang yang akan celaka, maka tentu Alloh akan mempermudah jalannya untuk selalu melangkah pada jalan kekufuran serta Maksiat serta tidak akan mengerti sedikitpun pada pemahaman Agama.

Atau mengerti akan kebenaran agama, tapi dikasih kesulitan-kesulitan untuk mengerjakannya. nah itu tandanya orang yang hendak dicelakain oleh Alloh.

Seperti halnya jika seseorang hendak dijadikan orang yang pintar (cerdas), maka Alloh akan memberi kemudahan untuk rajin belajar, begitu juga sebaliknya jika dikehendaki untuk menjadi orang Bodoh, maka akan dipersulit untuk melakukan itu (belajar). Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya.

6 macam Ilmunya makhluk

Ilmu makhluk itu ada berbagai macam lho sahabatku, diantaranya :

  • Ilmu Dloruri 

Ilmu dloruri adalah ilmu yang dimengerti atau difahaminya itu tidak harus dipikir terlebih dahulu.

  • Ilmu Nadhori

Ilmu Nadhori adalah kebalikan dari ilmu dloruri yakni bisa dimengertinua itu setelah ada sebuah pemikiran.

  • Ilmu Kasbi

Yang disebut dengan Ilmu Kasbiy ini adalah suatu ilmu yang didapat setelah melalui proses Belajar.

  • Ilmu Badiihii

Yang disebut dengan Ilmu Badiihi adalah ilmu yang diperoleh setelah ada beberapa kali percobaan (eksperimen), seperti mengetahui hasiat dari sebuah racikan obat-obatan.

  • Ilmu Wahbi atau Ilham

Ilmu Wahbiy ini adalah ilmu yang datangnya langsung pada hati manusia tanpa ada proses belajar, bahkan sebelumnya itu tidak mengetahuinya samasekali. Nah ilmu ini seperti Ilmunya para Waliyulloh.

  • Ilmu Wahyusy Syar’i

Ilmu Wahyu Syar’i ini adalah Ilmunya Para Nabi yang datangnya dengan berbagai cara, diantaranya :

  1. Kadangkala datangnya seperti bunyi lonceng dalam penerimaannya, yakni membutuhkan kecakapan khusus untuk mengartikannya.
  2. Kadang datangnya Malaikat Jibril itu menyerupai sosok laki-laki.
  3. Kadang datangnya lewat mimpi.
  4. Kadang langsung diberikan kepadanya.
  5. Datangnya Malaikat Jibril itu dengan wajah aslinya, yaitu dengan sayapnya Yang berjumlah 600, yang mana satu persatu dari sayap tersebut menutupi dunia ini.
  6. Dengan di dawuhi secara langsung oleh Alloh dengan tanpa perantaraan, seperti Wahyu yang diterima disaat Kangjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alayhi wasallam pada malam Mi’raj. Nah ini adalah derajat Wahyu yang paling tinggi.

Inilah Ilmu-Nya Alloh Subhaanahu wa ta’alaa itu berbeda dengan Ilmunya makhluk, sebab Alloh itu Mukhalaftun lil hawaditsi.

Baca juga : Sifat Salbiyyah yang ketiga

Kesimpulan Qodlo dan Qodar

Melewati uraian yang lumayan panjang tentang penjelasan Qodlo dan Qodar ini, akhirnya sekarang bisa kita Simpulkan bahwa segala rupa perkara itu sudah dipastikan oleh Alloh dari Zaman Azali serta dikehendaki satu persatu dari tanda-tandanya. Dengan demikian maka wajib bagi kita untuk mengikuti dari tanda-tanda kebaikan itu, sebab disana ada janji dan ancaman-Nya yang mustahil akan keingkaran-Nya.

Orang yang Mukmin diberi janji akan Sorga,

Orang yang Kafir diancam oleh Neraka-Nya.

Jadi Iman itu sebagai tanda bagi orang-orang yang selamat, dan dan Kufur itu sebagai tanda bagi orang-orang yang celaka. Begitu juga antara Ta’at dan maksiat.

Sampai disini Sahabatku yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini yakni dalam bahasan Qodlo dan Qodar secara singkat, dan jika Sahabat semua hendak mencari bahasan yang lebih mendetil, silahkan hubungi Ulama setempat ya supaya bener-bener bisa memahaminya. Atau cari referensi dari Mbah Google terlebih dahulu, terus Konfirmasikan pada Ulama setempat.

Atau juga Sahabat Ajukan pertanyaan dibawah ini :