PENJABARAN SIFAT NAFSIYYAH

Ahamdulillah Sahabat, kita masih dipercaya oleh-Nya tuk menatap indahnya Alam semesta. Yang mana Alam semesta ini adalah sebuah Dalil atau alasan akan adanya Sang pencipta. Fainsya Alloh dalam postingan PENJABARAN SIFAT NAFSIYYAH ini akan kita uraikan.

Karena dalam ulasan yang lalu yaitu dalam pembabaran 4 BAGIAN PENTING YANG HARUS DIKETAHUI DARI SIFAT 20 dan disana ada ulasan diantaranya Sifat Nafsiyyah, dan disana pun telah diulas bahwa sifat nafsiyyah itu hanya ada Satu sifat yaitu Sifat Wujud yang artinya Ada.

 

Penjabaran sifat Nafsiyyah (sifat Wujud)

 

Dan saat inipun akan kita bahas, pengertian dari sifat wujud itu. Pengertian dari sifat wujud itu adalah :

اَلْوُجُوْدُ هُوَ اِثْبَاتُ الشَّيْئِ وَتَحْقِيْقُهُ بِحَيْثُ يَصِحُّ اَنْ يُرٰى

Artinya : ” Wujud itu adalah Tetapnya suatu perkara yang sesuai dengan kenyataannya, sehingga terlihat Sah “.

Alloh Ta’alaa itu wajib keberadaannya dan adanya itu oleh Dzatnya, serta adanya Alloh itu tidak ada awalannya dan tidak ada Akhirannya pula (Abadi/Langgeng).

Adapun kebalikan dari Sifat Wujud itu adalah ‘Adamun yang artinya tidak ada. Jadi Mustahil dan sangat tidak masuk akal jika Alloh itu tidak ada.

Namun dalam kata Wujud yang berarti ada itu ada perbedaan pendapat diantara para Ulama di bidang ini. tapi kita tidak usah khawatir dengan perbedaan itu karena semuanya akan menjadi sebuah ilmu yang akan menjadi sebuah penerang kelak bagi kita.

Apa saja perbedaan itu ?

a. Penjabaran sifat Nafsiyyah menurut Imam Ar-Razi ( الرزي ) beserta Jama’ahnya

 

Arti Wujud menurut faham Imam Ar-Razi beserta Jama’ahnya itu adalah sebagai berikut :

أَلْوُجُدُ غَيْرُ الْمَوْجُوْدِ

Artinya : ” Yang dimaksud dengan Wujud itu adalah bukan Dzatnya yang ada, melainkan sifat perantara ada dan tiada, maka ini termasuk kedalam sifatul Hal ( حال )”.

Dengan demikian maka tidaklah naik pada level Mawjud (موجد ) dan tidak pula turun ke level Ma’dum ( معدوم ) karena wujud itu sifat Hal. Dan jika Wujud termasuk kedalam Sifat Hal, maka wujud itu tetap dan nampak berada diluar pada pembuktiannya ( Nafsul Amri / نفس الامر )nya.

 

b. Penjabaran sifat Nafsiyyah menurut Abul Hasan al-Asy’ariy

 

Kalau penjabaran Sifat Nafsiyyah menurut Qaul Abul Hasan al-Asy’ary itu adalah sebagai berikut :

 أَلْوُجُوْدُ عَيْنُ الْمَوْجُوْدِ، بِمَعْنٰى أَنَّهُ لَيْسَ زَائِدًا عَلٰى ذَاتِ الْمَوْجُوْدِ

Artinya : ” Wujud itu adalah Dzat yang ada, serta maknanya Wujud itu tidak melebihi pada adanya Dzat”.

Dengan demikian, maka makna Wujud itu termasuk kedalam Amrun I’tibariyyun ( امر اعتباريٌّ / perkara yang dikira-kirakan). Jadi wujud itu tidak tetap diluar hati tapi perkiraan dalam hati saja. Untuk penjelasan lebih terperinci silahkan dilihat dalam kitab Fathul Majid halaman 5-6.

Baca juga : Rindu kekasih

Penjabaran sifat Nafsiyyah

Tanbih : (sebuah peringatan)

Yang disebut dengan Sifat, itu ada Empat macam, diantaranya :

  1. Mawjud Dzat Yakni sifat yang ada Dzatnya. Contohnya seperti : Ada menurut penglihatan Mata, ada menurut Hati, yaitu sifat Ma’aniy. Sebab jika orang yang sudah mencapai Maqom Mukasyafah, maka akan nampak dengan jelas sifat Ma’ani tersebut.
  2. Ma’duumat yakni sifat yang tiada yaitu sifat Salbiyyah, tapi bukan berarti sifat salbiyyah itu tidak ada di Alloh Ta’ala melainkan tidak adanya itu dalam artinya saja seperti : Qidam artinya Terdahulu berarti tidak Baru, Baqo artinya Abadi dalam artian tidak Rusak atau Fana. Muhkalafatun Lil hawaditsi artinya Tidak sama dengan Makhluknya (sesuatu yang baru), berarti tidak menyerupai makhluknya. Qiyamuhu Binafsihi artinya Maha kaya dengan DzatNya (berdiri sendiri)Dalam artian tidak membutuhkan Dzat yang lainnya. Wahdaniyyat artinya Tunggal, dalam artian tidak ada hitungannya, kerana : ثُبُوْتِيَّه إِلٰهِيَّه، عَدَمِيَّه إِنْسَانِيَّه yakni sebuah ketetapan keTuhanan yang tidak ada di Makhluknya. Nah sifat Salbiyah ini hanya Tuhan yang punya dan tidak ada dimakhluk-Nya.
  3. I’tibariyyun yaitu sifat yang dikira-kirakan, yang tidak bisa menetap diluar hati, yakni hanya sekedar perkiraan hati saja. Bahkan kalau menurut Qaul yang lain, sifat Nafsiyyah dan sifat Ma’nawiyyah itu termasuk kedalam kategori I’tibariyyah, karena kalau menurut Qaul Rajih itu, tidak ada yang disebut dengan sifat Hal.
  4. Sifat Hal yakni sifat perantaraan ada dan tiada, yang tidak naik pada martabat Mawjud sehingga sifat itu bisa terlihat. Dan tidak pula turun pada peringkat Ma’dum sekira disebut tidak ada.
Di poin ke Empat ini yaitu yang termasuk kedalam Sifatul Hal ada Dua sifat yaitu :
  1. Hal Nafsiyyah yaitu yang tidak ada ‘Ilat apapun selain Dzat Alloh.
  2. Hal Ma’nawiyyah yaitu yang di ‘Ilati oleh sifat Ma’aniy.

Jadi meurut Ulama yang menetapkan Sifat Hal, maka kita bisa mengetahui bahwa itu adalah sifat Nafsiyyah dan sifat ma’nawiyyah.

7 bagian dari penjabaran sifat nafsiyyah

Untuk selanjutnya kita akan mengenali 7 bagian dari penjabaran sifat nafsiyyah tersebut, yang mana sifat Nafsiyyah itu hanya ada satu yaitu sifat Wujud.

Wujud itu artinya Ada, sementara perkara yang Ada menurut perkiraan yang menemukannya, itu ada 7 macam, yang tujuh itu adalah :

a. Ada menurut mata

Yang bisa disebut ada menurut mata adalah suatu perkara yang bisa dilihat :

  • Bis dilihat bentuknya,
  • Bisa dilihat warnanya, Seperti warna Merah, kuning, hijau dan lain sebagainya.

b. Ada menurut pendengaran

Yang disebut ada menurut pendengaran, seperti suara pelan atau keras.

c. Ada menurut Lidah

Yang disebut ada menurut lidah itu adalah seperti rasa Manis, pahit, asin, kecut dan rasa-rasa yang lainnya.

d. Ada menurut penciuman

Ada menurut penciuman itu seperti Bau, wangi, dan yang lainnya.

e. Ada menurut peraba (rabaan)

Yang bisa ditemukan ada menurut Rabaan adalah seperti meraba sesuatu yang kasar, halus, licin, panas, dingin dan yang lainnya.

f. Ada menurut Hati

Ada menurut hati itu seperti sesuatu yang tergambar dalam hati atau hayalan yang terbayang oleh hati.

Nah yang enam poin diatas bukan suatu alat untuk mengetahui adanya Alloh Ta’ala, tapi hanya alat untuk mengetahui akan Dalilnya, atau tandanya bahwa Alloh itu ada.

Jadi Alloh itu bisa diketahui bukan oleh mata, bukan oleh telinga, bukan oleh penciuman, bukan oleh Rabaan, bukan oleh hayalan hati, melainkan mengetahuinya (Ma’rifat) kepada Alloh itu pake akal.

g. Ada menurut Akal

Ada menurut akal itu seperti contoh : “Adanya asap itu menandakan bahwa adanya Api, adanya alam ini menunjukkan bahwa ada yang menciptakannya yaitu Alloh.

Jadi kita bisa mengetahui adanya Alloh itu menurut akal sehat, setelah kita meneliti terlebih dahulu pada dalil-dalilnya.




Berambung pada Bahasan Dalil sifat Nafsiyyah atau sifat Wujud