PENGERTIAN DALIL

Assalaamu’alaykum ww… Selamat berjumpa kembali Sahabatku, dalam pertemuan kita kali ini, kita akan menggali sedikit pengetahuan dari pengertian Dalil. Karena hampir semua bahasan yang ada diblog ini tak lepas dari kata-kata Dalil.

Makanya saat ini kita bahas terlebih dahulu bahasan tentang dalil, supaya tidak rancu dalam bahasan-bahasan yang akan datang.

Pengertian Dalil

 

Nah dalam pengertian dalil disini ada beberapa kategori, yaitu :

  1. Dalil menurut Lughat
  2. Dalil menurut Ushul Fiqih
  3. Dalil menurut Ahli Manthiq

Dan arti sebuah dalil dari setiap kategori itu berbeda antara satu dan lainnya, perbedaannya seperti berikut :

1. Dalil menurut Lughat

 

Sekarang kita akan melihat perbedaannya antara poin demi poin, yang pertama mari kita ketahui apa dalil menurut lughat..??

Dalil menurut Lughat (Bahasa) adalah :

مَادَلَّ عَلَى الْمَقْصُوْدِ

Artinya : “Suatu perkara yang menunjukkan pada yang dimaksud”.

Itu menurut Lughat, adapun kalau menurut Alhi Ushul Fiqih maknanya seperti dibawah ini.

Baca juga :

 

2. Dalil menurut Ahli Ushul Fiqih

 

Makna dalil menurut ahli Ushul Fiqih adalah :

مَايُمْكِنُ التَّوَصُّلِ بِتَصْحِيْحِ النَّظْرِفِيْهِ اِلٰى مَطْلُوْبٍ خَبَرِيٍّ

Artinya : ” Suatau perkara yang bisa menyampaikan pada perkara yang dimaksud, dengan memakai Fikiran yang benar “.

Yakni berfikir dalam sebuah tingkah laku serta sifat-sifatnya perkara itu, contohnya  seperti kalimat Barunya Alam ini. Kalimat ini menyatakan sebuah pemikiran bahwasannya Alam jagat raya ini suatu perkara yang baru (ada penciptanya, ada awalannya).

Pengertian Dalil
Pemanis saja

3. Dalil menurut Ahli Manthiq (Logika)

 

قَوْلٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ قَضِيَّتَيْنِ فَاَكْثَرَ يَلْزَمُ لِذَاتِهِمَا قَوْلًا اٰخَرَ

Artinya : ” Sebuah ucapan yang tersusun dari Dua Qadliyyah atau lebih, yang menghasilkan sebuah pembuktian akan ucapan lainnya yang disebut dengan Natijah (kesimpulan).

Seperti dalam contoh ucapan :

اَلْعَالَمُ مُتَغَيِّرٌ وَكُلُّ مُتَغَيٍّرٌ حَادِثٌ، وَكُلُّ حَادِثٍ لَهُ صَانِعٌ

Artinya : ” Alam itu selalu berubah-ubah, setiap yang berubah-rubah pasti baru, dan setiap sesuatu yang baru sudah pasti ada yang menciptakannya”.

Jadi yang namanya Alam itu, sudah pasti ada yang menciptakannya. Dan tidak bisa dinalar dengan logika jika sesuatu yang baru ada dengan sendirinya.

Adapun Dalil yang dipakai dalam Masalah ini (Ilmu Tauhid) harus dengan dalil yang Qoth’i, yaitu dalil yang pasti kebenarannya serta Mustahil salahnya.

Dan Dalil Qoth’i itu terdiri dari Dua macam Dalil, diantaranya :

  1. Dalil ‘Aqli
  2. Dalil Naqli

 

  • Dalil ‘Aqli

Dalil ‘Aqli adalah dalil yang di ambil dari buah pemikiran akal seperti contoh dalil menurut ahli Manthiq diatas yang mencukupi syarat-syarat dalam penyimpulan, serta Muqaddimah yang memberi Faidah pada sebuah keyaqinan.

Nah dalam Dalil ‘Aqli ini semua aturannya, diatur oleh Ilmu Manthiq (logika/nalar).

 

  • Dalil Naqli

Yang disebut dengan Dalil Naqli adalah Dalil yang di Nuqil (mengutip) dari Al-Qur’an dan Al-Hadits yang mutawatir atau shohih. Dan insya Alloh semua bahasan Sifat 20 yang tertuang dalam Blog ini   akan disertakan Dalil akli dan dalil Naqlinya dari setiap sifat-sifatnya.

Tapi perlu digaris bawahi juga bahwa dari mulai sifat Wujud sampai dengan sifat Hayat, yang lebih diutamakan adalah Dalil ‘Aqli, Sementara Dalil Naqlinya dipakai untuk menguatkan keyakian saja.

Adapun dari sifat Sama’ sampai sifat Kalam, itu sebaliknya yaitu yang lebih diutamakan Dalil Naqlinya, sementara Dalil ‘Aqlinya dipakai untuk menyempurnakan (supaya gampang dicerna oleh logika). Karena daya fikir kita itu sangat terbatas jika menelan dalil mentah-mentah, bisa jadi nanti malah salah Tafsir.

Sampai disini dulu sedikit ulasan tentang Dalil, insya Alloh dalam bahasan yang akan datang kita akan memulai inti dari bahasan yang terrangkum dalam postingan yang lalu yaitu Bagian-bagian sifat 20