KESIMPULAN DARI SIFAT WUJUD

Assalaamu’alaykum Sahabat… Alhamdulillaah kita dipertemukan kembali dan bisa melanjutkan lagi sebuah bahasan dari Sifat wujud, yang mana dalam bahasan sifat Nafsiyyah ini memang sangatlah panjang. Bahkan dalam mengurai sedikit Dalilnya pun lumayan juga sehingga untuk pembahasan sebuah Kesimpulan dari sifat wujud pun baru bisa termuat saat ini.

Baiklah sahabatku, supaya tidak menghabiskan waktu mari kita mulai saja membeberkan Kesimpulan dari sifat Wujud itu. Walhasil dari sifat wujud itu kita harus meyakini bahwa Alloh itu Wajibul Wujud artinya Dzat yang Wajib keberadaanya dan tidak bis dimengerti jika Alloh itu tidak ada serta akal tidak bisa menerima jika tidak ada.

Karena Wujudnya itu tidak memakai bahan atau asal, tidak pula pakai perantaraan, yakni tidak diciptakan oleh yang lain. Tapi wujudnya itu  Wujud Dzati artinya Dzatnya itu meng_Istilzam pada Wujudnya. Bukan Alloh mengadakan dzat sendiri, bukan pula menciptakan Dzatnya sendiri, karena mustahil ada perkara meng_ada_kan dirinya sendiri ( Yang tidak ada mau membuat yang tidak ada pula) jika demikian maka sangat tidak masuk Akal.

Lihat juga : Halaman Aqidatunnajiin

KESIMPULAN DARI SIFAT WUJUD
pemanis saja

 

 

KESIMPULAN DARI SIFAT WUJUD

 

Semua makhluk (tidak hanya Manusia) bersaksi akan wujudnya Alloh, yakni semuanya mengakui akan Wujudnya Alloh entah oleh lisannya ataupun tingkah lakunya, entah secara ikhlas atau terpaksa, terkecuali Manusia yang buta (dibutakan) mata hatinya. Seperti Firman Alloh :

وَعَلٰى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ

Artinya : ” Dan ditetapkannya penglihatan mereka itu suatu penghalang”.

Ma’rifatnya dilebur seperti Qaum Dahriyyah yang menolak akan adanya Tuhan (Alloh), sementara mereka men_Tuhankan zaman sebab anggapan mereka itu bahwa adanya dunia dan Rusaknya itu bergantung pada kejadian alam dan Zaman, bukan oleh Alloh.

Nah yang mempunyai keyakinan  demikian itu sudah cap sebagai Ahli Neraka, Na’uudzu billaahi min dzalik. Dengan demikian kita harus berhati-hati jangan sampai punya keyakina seperti itu, tapi pupuklah keyakinan kita bahwa segala apa yang ada, itu diciptakan oleh Alloh dan semuanya Alloh yang ngatur karena tidak ada satupun yang bisa keluar dari kekuasaan Alloh.

 

Macam-macam Wujud

Seyogyanya kita harus tahu bahwa Wujudnya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala itu adalah  Wujud Mahdlun ( محض ) atau disebut juga Wujud Dzatiyyun sebab yang disebut wujud itu ada 2 Macam, diantaranya :

  1. Wujud Mahdlun محضٌ
  2. Wujud Muqayyad مقيد

Setelah kita tahu bahwa wujud itu ada dua macam, terus kita juga harus tahu satu persatunya, mari kita lanjutkan lagi bahasan kita.

1. Wujud Mahdlun محض

Yang disebut dengan wujud Mahdlun itu adalah Wujud Murni atau disebut juga dengan Wujud Dzati.

Untuk penjelasan dari Wujud Mahdlun itu terdiri dari sifat – sifat berikut :

  1. Qidam
  2. Baqo’
  3. Mukhalafatun lil Hawaditsi
  4. Qiyamuhu binafsihi
  5. Wahdaniyyat

Nah yang lima sifat diatas itu termasuk kedalam Sifat Salbiyyah yang insya Alloh dalam bahasan yang akan datang akan kita ungkap juga. Yakni sifat yang menolak sifat yang tak layak bagi Alloh.

Serta dipake buat menjawab pertanyaan – pertanyaan

  • Ayna أين = Dimana
  • Kayfa كيف = Bagaimana
  • Mata متى = Kapan
  • Kam كم = Berapa

a. Jika ada orang yang bertanya Dimana Alloh, Ayna Alloh اين الله..??

Maka jawabannya : Alloh itu tidak dimana – mana, karena pertanyaan dimana itu mempertanyakan sebuah tempat, sebab Alloh itu yang mempunyai Sifat Qiyamuhu binafsihi.

Yakni Alloh itu berdiri sendiri ( kaya sebab Dzat bukan sifatnya, dan juga tidak membutuhkan akan tempat ) sebab Alloh itu bukan Jirim dan tidak terikat oleh Jihat “Arah” yang enam yaitu :

  1. Atas
  2. Bawah
  3. Barat
  4. Timur
  5. Utara
  6. Selatan

Karena itu semua adalah sesuatu yang baru yang tak layak bagi-Nya.

b. Jika ada orang yang bertanya “ Bagaimana Alloh ,Kayfa Alloh كيف الله” ???

Jika ada yang bertanya Bagaimana Alloh atau Kayfa Alloh..??

Maka jawabannya sebagai berikut : ” Alloh itu tidak bagaimana- bagaimana sebab Alloh itu Mukhalafatun Lil Hawaditsi Laysa Kamitslihi Syay_un ( مُخَلَفَةٌ لِلْحَوَادِثِ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْئٌ ) Yakni Alloh itu tidak sama dengan segala sesuatu yang baru, dan tidak ada satupun yang Menyerupai Alloh.

Karena jika menurut tata bahasa, kalimat Bagaimana itu diperuntukkan buat menanyakan warna seperti : Merah, kuning, hijau, hitam, putih, dan lain sebagainya. Dan juga untuk bertanya akan keadaan seperti : Sakit, Sehat, kaya, dan miskin dan lain sebagainya.

Jika sifat yang serba baru itu disebut juga dengan ‘Arodl, sedangkan ‘Arodl itu tentu melekat pada Jirim, nah sementara kan Alloh itu bukan Jirim. Makanya Alloh itu Maha Bersih dari macam – macam sifat yang Baru tadi, jadi tidak bisa dipertanyakan dengan Ucapan Bagaimana Alloh.


c. Jika ada orang yang bertanya Kapan Adanya Alloh متى الله ??

Terus jika ada orang yang bertanya kapan adanya Alloh atau متى الله ??

Maka jawabannya adalah sebagai berikut : ” Bagi Alloh itu tidak ada kata Kapan” sebab Alloh itu bersifat Qidam dan Baqo’ ( أَوَلٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ وَأٰخِرٌ بِلَا انْتِهَاءٍ ) atinya : Terdahulu tidak ada permulaannya serta Abadi tidak ada akhirannya.

Tidak terkurung oleh Zaman, sebab kalau kata Kapan itu sebuah pertanyaan yang menunjukkan pada Zaman, sedangkan yang namanya Zaman itu adalah ciptaan Alloh juga.

 

d. Jika ada orang yang bertanya “Berapa Alloh كم الله…??

Jika ada orang yang menanyakan Berapa Alloh..?

Maka jawabnya adalah : ” Alloh itu tidak beberapa, sebab Alloh itu di sifati oleh sifat Wahdaniyyat (Maha Tunggal)

 وَاحْدَنِيَّةٌ وَاحِدٌ لَا مِنْ قِلَّةٍ، قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ

 Artinya : Alloh Tunggal Dzatnya, Tunggal Sifatnya, Tunggal pula pekerjaannya, bukan lebih sedikit dari satu, bukan pula satu (setengahnya dari dua) tidak berbilang, tidak terdiri dari beberapa JUz atau bagian – bagian, tidak tersifati oleh besar dan kecil.

 

FAIDAH

Barangsiapa yang meninggalkan yang empat perkara (Kalimah pertanyaan diatas), yaitu :

  1. Ayna = Dimana
  2. Kayfa = Bagaimana
  3. Mata = Kapan
  4. Kam = Berapa

Yakni dalam urursan mengenai Alloh itu, tak semestinya ada pertanyaan seperti itu sebab di dalam arti dari sifat – sifat Salbiyyah yang Lima pun itu sudah lebih dari cukup.

 

2. Wujud Muqayyad  مقيد

Wujud Muqayyad itu artinya wujud yang diqayyidan seperti keberadaannya itu harus ada yang menciptakannya atau membuatnya, seperti adanya kita saat ini, atau adanya jagat raya ini.

Adapun untuk keterangan dari wujud muqayyad itu ada Empat macem, yang timbul dari ucapan :

  • اين Ayna = Dimana
  • متى Mataa = Kapan
  • كيف Kayfa = Bagaimana
  • كم Kam = Berapa

Sekarang kita ambil contoh saja biar gak bingung.

Jika ada yang bertanya Dimana Ki Zaid..? 

Maka jawabannya seperti ini, bisa dijawab disana atau disini, bisa ditunjuk oleh telunjuk sebab itu menunjukan sebuah tempat.

Jika ada yang bertanya Bagaimana Ki Zaid itu..?

Maka jawabannya seperti ini, bisa dijawab bahwa Ki Zaid itu Tinggi atau  Pendek, Besar atau Kecil, Hitam atau Putih, Sehat atau Sakit dan lain sebagainya.

Sebab ucapan Bagaiman itu sebuah ungkapan pertanyaan bagi yang bersifat Jirim, bukan untuk Alloh.

Jika ada yang bertanya Berapa Ki Zaid itu..??

Maka jawabannya seperti ini, bisa satu, dua atau tiga dan seterusnya. Karena pertanyaan atau kata Berapa itu menunjukkan pada sebuah bilangan, dan ini tak berguna bagi-Nya.

 

Jika ada yang bertanya Kapan Adanya Ki Zaid..??

Maka jawabannya seperti ini, bisa di jawab Kemaren, besok ataupun lusa, atau minggu lalu, minggu yang akan datang, atau bulan lalu atau bulan yang akan datang dan seterusnya. Sebab ungkapan Kapan itu untuk menanyakan sebuah zaman atau waktu.

Jadi setiap perkara seperti pertanyaan – pertanyaan yang Empat diatas, itu yang dinamakan dengan Wujud Muqayyad yaitu wujud yang di sertai qayyid tertentu seperti adanya kita semua dan seluruh makhluk.

Karena keberadaannya itu membutuhkan pada yang menciptakan serta ketiadaannya juga membutuhkan pada yang men_tiadakannya. Tidak bisa ada dan hilang dengan sendirinya.

Sampai disini ulasan tentang Kesimpulan Dalil Sifat Wujud , fa insya Alloh dalam pertemuan yang akan datang kita akan Membahas bagian kedua yaitu sifat Salbiyyah.