SEBUAH KESIMPULAN DARI HUKUM AKAL DAN BAGIANNYA

Saudaraku yang di Rahmati Alloh, mari kita lanjutkan lagi catatan kita ini, yang mana kemaren kita membahas serba-serbi dari hukum Akal dan Bagian – bagiannya. Berhubung kemaren belum kita simpulkan, nah sekarang mari kita buat kesimpulan dari Hukum Akal dan Bagian-bagiannya.

Kita langsung kebahasan kita saja ya, biar tidak menghambur-hamburkan waktu yang ada. Jadi hasil dari Fasal ini, yaitu : Hukum akal dan bagiannya,  yang disebut dengan wajib itu adalah Sesuatu yang harus ada, bahkan selalu ada”. 

Contohnya : “Menurut akal itu wajib adanya Dzat Alloh dan lain-lain.

Terus kalau yang disebut dengan Mustahil itu adalah ” Sesuatu yang mesti tidak ada menurut akal bahkan sampai kapanpun harus tiada”. 

Contohnya : ” Menurut akal Mustahil adanya Tuhan selain Alloh Ta’ala”.

Selanjutnya yang disebut dengan Jaiz yaitu “Suatu perkara yang tidak harus ada atau tidak harus tiada menurut akal, tapi antara Ada dan tidak adanya itu bergantian (silih berganti).

Contohnya : ” Seperti ada atau tidak adanya Makhluk”.

Baca juga : Versi Sunda

 

Yang tiga diatas itu, Wajib ‘aqli, Mustahil ‘aqli, dan Jaiz ‘aqli itu. Masing-masing terbagi menjadi dua bagian, yang dua bagian itu adalah

  1. Dloruri
  2. Nadhori

Dengan demikian maka kita bisa menyimpulkan bahwa jumlah dari hukum akal dan bagiannya itu ada Enam. Dan jika kita gambarkan, kurang lebih seperti ini :

Hukum akal dan bagiannya
Hukum akal dan bagiannya

 

 

Kesimpulan terakhir dari Hukum akal dan bagiannya

 

Di bagian akhir dalam ulasan Hukum akal dan bagiannya, mari kita telusuri sedikit lebih mendetil tentang Wajib, mustahil dan Jaiz tersebut diatas.

Wajib

Disini wajib itu terbagi menjadi tiga bagian, yang tiga itu adalah :

  1. Wajib Dzaatil Muthlaq yang artinya Dzat Alloh dan Sifat-sifatnya, sebab selamanya mesti ada (harus ada) serta keberadaanya iti Muthlaq tidak di Qoyyidan oleh apapun.
  2. Wajib Dzaatul Muqoyyad adalah seperti Ngalap tempatnya Jirim seukurannya, sebab semestinya setiap jirim itu harus selalu mempunyai tempat, tapi adanya Qayyid tersebut berlaku selama jirim itu masih ada, maka jika jirim itu tidak ada Qayyid itu lepas dengan sendirinya.
  3. Wajib ‘Aridiy adalah seperti keberadaan kita sekarang, karena asalnya kita itu tidak wajib tapi Jaiz (wenang). Namun kita terikat oleh sifat Ilmunya Alloh saja sehingga kita ada sekarang.

Dengan demikian maka wajiblah keberadaan kita sekarang ini, tapi wajibnya baru-baru ini bukan dari sononya.

Mustahil

Untuk yang mustahilpun nampaknya sama juga seperti yang wajib diatas, yaitu terbagi menjadi Tiga bagian pula, diantaranya :

  1. Mustahil Dzaatil Muthlaq adalah seperti adanya Tuhan selain Alloh Ta’ala, nah itu mesti selamanya haruslah tidak ada.
  2. Mustahil Dzatil Muqoyyad adalah seperti mustahilnya sebuah Jirim jika tidak mempunyai tempat, atau jirim tidak bergerak atau tidak diam dalam satu waktu. Yang demikian itu Qayyid mustahil selama jirim itu ada, sebab jika jirimnya tidak ada, itu masih bisa dimengerti walaupun tak mempunyai tempat.
  3. Mustahil ‘Aridliy adalah seperti kita yang terikat oleh sifat Ilmunya Alloh Ta’ala akan keberadaan kita, maka sangatlah mustahil jika kita tidak ada yang pada dasarnya kita ini Jaiz atau Wenang adanya dan wenang pula tidak adanya. Namun berhubung kita ini terikat oleh Ilmunya Alloh Ta’ala akan keberadaanya, maka jadinya mustahil lah ketiadaan kita sekarang. Tapi mustahilnya itu baru-baru ini atau ‘Aridliy.

Alhamdulillaah sedikit ulasan dalam menyimpulkan hukum akal dan bagiannya telah selesai, maka untuk pertemuan kita kali ini saya cukupkan dulu sampai disini.

Dan untuk bahasan yang akan datang, kita akan melangkah dan merangkak pada Fasal Nomer dua yaitu yang akan membahas Bab Hukum ‘adat.

Walloohu A’lam