RAHASIA DIBALIK HUKUM ADAT

Dalam kehidupan sehari – hari kita tak lepas dari apa yang namanya sebuah hukum, karena aman dan damainya suatu tatanan hidup karena semuanya dinaungi oleh sebuah landasan HUKUM . 

Terus hukum apa saja yang akan dikemukakan disini…. ????

hukum adat
Tasbih

Fainsya Alloh yang akan kita telaah disini dan saat ini adalah sebuah hukum yang ada kaitan dengan ilmu ushuluddin dan setelah dalam bab sebelumnya yang telah kita ulas sealakadarnya saja. Tapi walaupun demikian semoga saja memberi manfa’at bagi kita semua. Aamiin…

Nah dalam pertemuan kita kali ini yang akan dituangkan escincau.com adalah ulassan tentang HUKUM ADAT . Dalam uraian hukum adat ini kita akan menemukan berbagai hal yang erat kaitannya dengan ilmu ushuluddin dan aqidah kita, diantaranya :

-Pengertian Hukum adat

-Pembagian Hukum adat

Pengertian hukum Adat

 

Mari sekarang kita melangkah lagi pada sebuah uraian yang akan membuka sedikit uraian tentang hukum adat. Adapun sebuah pengertian dari hukum adat itu adalah sebagai berikut ;

وَالْحُكْمُ الْعَادِيُّ هُوَ اِثْبَاتُ اَمْرٍ لِاَمْرٍ اٰخَرَ اَوْ نَفْيُهُ عَنْهُ بِوَاسِطَةِ التَّكْرِيْرِ اَيْ وَاسِطَةِ الْقِراٰنِ بَيٍنَهُمَا

Artinya : ” Yang disebut dengan hukum adat itu adalah Penetapan suatu perkara pada perkara yang lainnya, atau tidak menetapkannya dengan perantaraan yang bolak-balik yakni berbarengan diantara beberapa kali kejadian”.

Nanun hukum adat itu sangat Sah ketidak tepatannya dan sangat pantas untuk salah, kita ambil contoh gini : ” Adanya kenyang setelah makan dan lain-lainnya “.

Nah contoh diatas tadi itu sah jika menurut pada hukum adat, karena bukan hanya satu kali-dua kali kejadiannya selalu begitu. Tapi Sah juga seandainya tidak demikianpun (contoh diatas), sebab tidak apa-apa pula jika sehabis makan tidak ada kenyang pun, bahkan malah lumpuh sekalipun. Atau bahkan tidak menutup kemungkinan jika perut kenyang tapi tidak makan dan minum sekalipun.

Yang demikian itu kategori hukum menurut adat atau kebiasaan yang telah kita temui saat ini. Sekarang tinggal kita menambah langkah pada Bab selanjutnya, yaitu : Bagian-bagian dari hukum adat.

 

Bagian – bagian dari Hukum adat

 

Setelah kita sedikit mengetahui akan gambaran atau pengertian dari Hukum adat, maka untuk poin selanjutnya kita akan mencoba untuk mengetahui Bagian-bagiannya.

Dan Untuk bagaian-bagian dari hukum adat itu terdapat 4 ( Empat) bagian, diantaranya :

1. Robthu wujuudin bi wujuudin

 

Robthu wujuudin bi wujuudin =

ربط وجود بوجود itu adalah suatu hubungan antara yang ada pada yang ada. Dan untuk contoh dari poin ini adalah seperti : ” Adanya kenyang sebab adanya makan, atau adanya terbakar (gosong) oleh adanya api”.

Dan banyak lagi contoh – contoh yang lainnya tinggal kita kiyaskan saja seperti dua contoh diatas itu.

 

2. Robthu ‘adamin bi ‘adamin

Robthu ‘adamin bi ‘adamin =

ربط عدمٍ بعدمٍ yaitu suatu hubungan antara yang tiada kepada yang tiada juga . Contohnya seperti : ” Tidak ada kenyang dengan tiadak adanya makan, atau tidak adanya gosong sebab tidak adanya api.

Dua contoh ini hanya mewakili contoh-contoh yang lainnya, karena kalau ditulis semuanya nanti bahasan yang lainnya malah terbengkalai.

3. Rubthu Wujudin bi ‘adamin

Rubthu Wujudin bi’adamin =

ربط وجودٍ بعدمٍ yaitu suatu hubungan antara yang ada pada yang tiada. Nah yang menjadi contoh dalam poin ini adalah seperti : ” Adanya lapar karena tidak adanya makan, atau adanya kedinginan karena tidak adanya selimut.

Nah kalau untuk poin nomer tiga ini memang hampir sama maknanya dengan poin-poin sebelumnya, tapi kalo dalam kalimatnya sangat jelas perbedaannya, tinggal kejelian kita samapi dimana dalam mengolah kalimat dan memaknainya.

4. Rubthu ‘adamin biwujudin

Rubthu ‘adamin biwujudin =

ربط عدمٍ بوجودٍ yaitu suatu hubngan antara yang tidak ada kepada yang ada, yang akan menjadi contoh pada poin terakhir ini adalah seperti : “Tidak adanya lapar oleh adanaya Makan, atau tidak adanya gosong karena adanya air yang mencegah pada panasnya api”.

Sampai disini, ulasan garis besar tentang pembagian hukum adat, untuk selanjutnya insya Alloh kita akan mencoba untuk menelisik tentang Hubungan atau keterkaitan antara hukum adat dan dan Aqidah.

Berhubung ulasan yang akan datang agak sedikit panjang, maka dalam ulasan yang sekarang saya tutup dulu samapi disini.

Senoga kedepannya kita bisa berjumpa lagi