MENELUSURI DASAR HUKUM UNTUK MEMPELAJARI MATERI DI BLOG INI

Dasar hukum

Bismillah, Alhamdulillaah, wash-sholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaah. Selamat berjumpa kembali sahabat fillaah, kagak usah bertele – tele ah kita lanjutkan saja bahasan baru kita, yang mana sekarang kita akan mencoba tuk mengulas Dasar hukum dalam mempelajari seluruh materi yang sudah dan akan tertuang di Blog ini.

Memangnya seberapa penting kah Ilmu ini, sehingga pake harus tau dulu dasar hukum nya segala…? Mungkin itu yang ada dibenak masing – masing pembaca yang budiman.

Dasar hukum
Ilustrasi

Kenapa mengetahui dasar hukum dalam mempelajari blog ini sangat penting..? Karena disini dan seluruh materi yang tertuang dalam blog ini kita akan mengulas suatu hukum yang berkenaan dengan keTuhanan. Dengan alasan itu jadi untuk mempelajarinya kita harus tau dulu apa saja hukum yang akan kita bahas itu.

Biar tulisannya tidak terlalu panjang, mari kita mulai saja ulasan tentang  dasar hukum yang harus kita ketahui itu.

Sehubungan yang tertuang dalam blog ini sedang mengulas tentang Ilmu Ushuluddin, maka disana akan kita temui bahkan sebagian besarnya banyak kata – kata Wajib, Mustahil, dan Jaiz.

Maka dari itu harus kita ketahui juga apa artinya Wajib, Mustahil dan Jaiz . Nah tiga kata itulah dari tiap judul bahasan pasti tak pernah terlewatkan, dan perlu kita ketahui bahwa tiga kata tersebut didalam Ilmu Ushuluddin biasa disebut dengan Hukum Akal.

Dengan demikian, untuk menggali, mengkaji, dan mempelajari hukum akal itu dihukumi wajib Syar’i, sama dengan wajibnya mempelajari, mengkaji dan menggali Ilmu Ushuluddin. Karena termasuk dalam Qaidah :

مِنْ بَابِ مَالَايَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّابِهٖ فَهُوَ وَاجِبٌ

Artinya : Wajibnya suatu perkara tidak bisa sempurna, terkecuali dengan perkara itu sendiri. Dengan demikian hukumnya perkara itu menjadi suatu kewajiban.

Dengan demikian berhubung yang akan diulas dalam blog ini adalah suatu perkara yang berkaitan dengan hukum, maka alangkah bijaknya jika kita mengetahui dasar hukum nya yang mana dari sana kita bisa membedakan satu persatu biar tidak terjadai kekeliruan, sebab dalam hukum akal itu ada ucapan (kata) :

  • Wajib dan
  • Wenang (boleh)

Demikian halnya dalam hukum syara’ pun ada dua kata tersebut diatas. Solusi untuk menolak atau menghilangkan kekeliruan, maka insya Alloh diblog ini akan di ulas satu persatu.

Sekarang mari kita melangkah sedikit dalam mengetahui sebuah dasar hukum yang wajib kita ketahui itu, sebelum mengetahui hukum – hukum yang lain, alangkah baiknya jika kita mengetahui dahulu apa itu Pengertian Hukum

 

Al-Hukmu (Hukum)

Untuk mengawali ulasan dasar hukum, mari kita ulas dulu apa pengertian (Ta’rif) hukum. Adapun Ta’rif Hukum itu ialah :

أَلْحُكْمُ لُغَةً هُوَ : إِثْبَاتُ أَمْرٍ لِأَمْرٍ أٰخَرَ أَوْ نَفْيُهُ عَنْهُ

Artinya : Menetapkannya suatu perkara kepada perkara yang lainnya, atau tidak menetapkannya.

Kita ambil contoh seperti : ” Menetapkannya sifat berdiri pada Ki Zaid dalam ucapan ; زَيْدٌ لَيْسَ بِقَائِمٍ ( Ki Zaid itu tidak berdiri ).

Silahkan difahami, dibaca dengan penuh perasaan karena lumayan sulit untuk dimengerti. Dan saya cukupkan sampai disini saja dalam mengulas ta’rif atau pengertian dasar hukum yang menjadi tolak ukur dari bahasan – bahasan yang akan datang.

Karena masih ada beberapa Fasal yang akan kita ulas pula dalam dasar hukum tersebut, yang mana semuanya juga penting untuk diketahui. Disini fasal yang akan di ulas terlebih dulu adalah Rukun Hukum.

 

Rukun Hukum

Fasal yang harus kita ketahui dari dasar hukum itu adalah Rukun Hukum, dalam Rukun hukum inilah kita nantinya akan mengetahui semua yang dimaksud dari hukum – hukum yang ada.

Sekarang mari kita ulas dulu satu persatu dari Rukun Hukum yang jumlahnya ada Empat, kesemuanya itu diantaranya :

  1. Hukum.
  2. Hakim ( Pembuat Hukum)
  3. Mahkum Bih (pekerjaannya)
  4. Mahkum ‘alayh ( yang diperintah oleh hukum atau Subyek hukum)

Sekarang kita Ambil contohnya saja biar gak bingung dengan istilah – istilah diatas, dan yang menjadi contohnya adalah Dawuhan/ Firman Alloh :

وَاَقِيْمُ الصَّلَاةَ

Artinya : “Dirikanlah Shalat”.

Kesimpulan dasar Hukum

Nah dari contoh diatas kita bisa ngambil kesimpulan dalam mengartikannya sebagai berikut ;

Wajib shalat itu dinamai dengan Hukum.

Adapun yang merintah untuk mendirikan Shalat, yaitu Alloh subhaanahu wa ta’ala itu disebut dengan Hakim.

Terus pekerjaan Mukalaf atau yang diperintah untuk mendirikan Shalat itu, dinamakan dengan Mahkum Bih.

Adapun Mukalaf yang diperintah untuk mendirikan shalatnya atau yang terkena oleh hukum wajibnya shalat, itu dinamakan dengan Mahkum Alayh.

Adapun Hakim ( yang menetapkan Hukum) atau yang mengatur akan hukum, itu ada Tiga macem. Yang Tiga itu adalah :

  1. Akal
  2. Adat
  3. Syara’

Dengan demikian sebuah hukum pun ketika mengI’tibar (mempertimbangkan) Hakimnya itu, dibagi Tiga juga yaitu :

  1. Hukum ‘Aqli (hukum akal)
  2. Hukum ‘Adiy (hukum adat)
  3. Hukum Syar’i (hukum Syara’).

Dengan demikian bahsan yang Tiga diatas, nanti akan dibagi menjadi tiga Fasal :

  • Fasal Hukum ‘Aqli

  • Fasal Hukum ‘Adiy

  • Fasal Hukum Syar’i

Nah kalau untuk ulasan kali ini dicukupkan sekian dulu, mudah – mudahan ada manfaatnya dan menambah sedikit wawasan kita tentang dasar hukum yang menjadi landasan utama dalam mengkaji ilmu Tauhid.

والله اعلم