HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA Bag. 2

Bismillaah Alhamdulillaah wash_sholaatu wassalaamu ‘alaa ni’aamillaah, Sahabat Es Cincau yang di Rahmati Alloh setelah sekian lama catatan kita tertunda, padahal dalam masalah hukum akal ini belum selesai semua.

Tapi walau demikian, Es cincau akan selalu berusaha dan menyempatkan diri untuk melanjutkan catatan demi catatan itu. Supaya bisa menambah wawasan dan keimanan kita pada Yang Maha Kuasa.

Dalam catatan waktu itu :

HUKUM AKAL Bag. 1

Yang belum tercatat adalah Pembagian Mustahil ‘aqli. Nah saat ini mari kita simak tentang sebuah catatan yang akan sedikit mengungkap tentang Pembagian Mustahil ‘aqli.

 

Pembagian Mustahil akli (menurut akal)

 

Dalam pembagian Mustahil akli pun sama seperti dalam catatan Sebelumnya Yaitu terbagi menjadi dua bagian, dan yang dua bagian itu adalah :

  1. Mustahil ‘aqli dloruri
  2. Mustahil ‘aqli Nadhori

Adapun arti dari Mustahil ‘Aqli Dloruri adalah setiap perkara yang tidak bisa dimengerti oleh akal akan keberadaannya, serta mengertinya itu spontanitas. Dalam artian tidak membutuhkan adanya suatu pemikiran.

Contohnya seperti : ” Jirim tidak mempunyai tempat atau Jirim tidak diam maupun tidak bergerak, atau juga diam dan geraknya bersamaan pada satu waktu dan pada satu Jirim”.

Nah yang demikian itu atau contoh diatas itu merupakan sebuah contoh kemustahilan yang secara spontan bisa dimengerti oleh akal kita.

Catatan, Es cincau
Escincau.com

Adapun untuk poin selanjutnya Mustahil ‘aqli Nadhori adalah kebalikan dari poin di atas tadi yaitu : Setiap perkara yang tidak bisa dimengerti oleh akal keberadaannya dan juga dimengertinya pun tidak sepontanitas, tapi memerlukan pemikiran dan dalil terlebih dulu.

Contohnya seperti ucapan : Mustahil Alloh Baru atau Ada permulaan-Nya, Mustahil Alloh Rusak dan banyak lagi contoh- contoh yang lainnya.

Nah adanya contoh yang demikian itu setelah adanya pemikiran dan Dalil terlebih dulu, tidak bisa langsung disimpulkan dan dimengerti. Adapun penjelasannya, insya Alloh dalam pertemuan yang akan datang akan diperinci satu persatu dalam uraian Sifat – sifat Alloh Ta’ala.

Untuk uraian selanjutnya, mari kita jelajahi dan melangkah pada uraian Jaiz ‘aqli.

 

3. Catatan Jaiz ‘Aqli

 

Untuk selanjutnya yang termasuk kedalam hukum akal itu adalah Jaiz ‘Aqli dan untuk pengertian dari Jaiz ‘aqli ialah sebagai berikut : 

وَالْجَائِزُ عَقْلِيُّ مَايَصِحُ فِى الْعَقْلِ وُجُوْدُهُ وَعَدَمُهُ 

Artinya : “Yang dinamakan Jaiz menurut akal itu adalah jikalau suatu perkara sah akan keberadaan dan ketiadaannya”

Yakni akal bisa mencerna (mengerti) akan keberadaan dan ketiadaannya bergantian, bukan ada dan tiada secara berbarengan.

Jadi yang dinamakan Jaiz menurut akal itu saat ada, akal membenarkan dan saat tidak ada pun akal tetap membenarkan pula dengan syarat ada dan tiadanya bergantian.

Biar gampang untuk dicerna, dalam catatan ini, mari kita simak contoh berikut : “Ada suatu benda bergerak atau diam bergantian (bukan bergerak dan diam berbarengan) nah yang demikian itu dinamakan dengan Jaiz ‘aqli yaitu Sah – sah saja menurut akal.

Selanjutnya seperti dalam bab -bab yang telah kita lewati bersama, dalam ulasan wajib ‘aqli, mustahil ‘aqli yang terbagi menjadi dua bagian, maka dalam uraian Jaiz ‘aqli pun demikian, yaitu terbagi menjadi dua bagian.

Pembagian Jaiz ‘Aqli

 

Dan dalam bagian – bagian tersebutpun hampir sama juga yaitu :

  1. Jaiz ‘aqli Dloruri
  2. Jaiz ‘aqli Nadhori

Sekarang mari kita nambahi sedikit pengetahuan kita dengan mengulas apa yang disebut dengan Jaiz ‘aqli Dloruri.

Yang disebut dengan Jaiz ‘aqli Dloruri adalah suatu perkara yang Sah keberadaannya dan ketiadaannya secara langsung (spontanitas), Tak memerlukan sebuah pemikiran bahkan dalil -dalil.

Untuk contohnya yaitu sama seperti contoh diatas tadi (Jirim bergerak atau diam bergantian , atau juga Ki Zaid punya anak ).

Untuk poin selanjutnya adalah Jaiz ‘Aqli Nadhori adalah : ” Suatu perkara yang bisa dimengerti akan keberadaan dan ketiadaannya itu setelah melewati sebuah pemikiran dan juga menyertakan sebuah dalil”. Singkat kata, tidak bisa dimengerti secara spontanitas.

Untuk contoh dalam Jaiz ‘aqli Nadhori adalah : ” Menurut akal, sah – sah saja Alloh memberi ganjaran pada orang Kafir dan Menyiksa orang yang Tho’at serta tidak pernah melakukan Dosa.

Nah contoh yang demikian itu tidak bisa secara langsung dimengerti oleh akal, terkecuali harus mengetahui terlebih dahulu akan dalil dari Sifat Wahdaniyyatnya Alloh Ta’ala, sehingga sampai benar – benar tau bahwa seluruh Alam ini semua milik Alloh Ta’ala, ciptaan Alloh Ta’ala.

Yakni jika selain Alloh itu, tidak bisa memberi jejak (berbekas) sama sekali. Jadi kelazimannya, dengan adanya Akal kita bisa tau, ngerti akan sebuah dalil – dalil Sifat Wahdaniyyat itu.

Setelah itu, sudah barang tentu kita bisa mengerti bahwa Kufur, Iman, Tho’at dan Maksiat itu sama saja jika menurut akal serta satu persatu bisa dijadikan tanda bagi yang lainnya.

Tanda apakah itu….?
  • Iman tandanya Selamat
  • Kufur tandanya Celaka

Atau sebaliknya juga bisa saja, dan sudah barang tentu bisa dimengerti oleh akal kita bahwa sesungguhnya Alloh itu Mustahil mempunyai sifat Dzalim, walaupun Dia yang menciptakan segalanya. Sebab yang disebut dengan dzalim itu adalah menjalankan sebuah perkara tapi bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan atau yang dilarang. karena tiada satupun yang merintah ataupun melarang kepada Alloh sebab Alloh itu adalah Ratunya Ratu dan Raja diRaja jadi sangat tidak mungkin kalau Alloh dzalim.

Atau juga yang menjadi sebab dzalim_Nya itu, menempatkan suatu perkara bukan pada tempatnya ( pada hak orang lain ) bukan pada tempat yang semestinya. Sementara semua makhluk itu hanya Alloh yang memilikinya, hanya Alloh yang menciptakannya. Jadi sangatlah mutahil adanya Dzalim bagi alloh Ta’ala.

Yang harus jadi catatan :

Bahwa yang dapat dimengerti oleh akal itu adalah sah -sah saja (wenang) adanya ganjaran atau siksaan kepada setiap mukmin atau pada setiap orang kafir. Adapun ganjaran itu sendiri diperuntukkan (dikhususkan) bagi Mukmin Tho’at, sementara siksa api neraka itu diperuntukkan (dikhususkan) bagi orang – orang kafir dan orang durhaka.

Nah dalam paraghraf diatas itu, bukan sesuatu yang ditetapkan oleh akal tapi itu semata-mata Karunia atau Anugrah Alloh ta’ala dan keadilan-Nya. Yaitu yang ditetapkan oleh Syara’ sesuai dengan janji-Nya dan ancaman-Nya.

Alloh memilih untuk menetapkan sebuah Ganjaran (kenikmatan) bagi orang-orang Mukmin yang tho’atdengan sifat Fadlol-Nya dengan suatu anugrah. dan juga Alloh menetapkan pedihnya siksa neraka yang diperuntukkan buat orang-orang Kafir dan orang-orang durhaka dan gemar akan maksiat. dengan sifat keadilannya.

Nah yang demikian itu (semua yang tertulis diatas), itu disebut dengan Jaiz ‘aqli nadhori sebab tidak bisa dimengerti secara sepontanitas untuk keberadannya dan ketiadaannya itu setelah diadakan sebuah pemikiran dan memerlukan beberapa dalil yang berkaitan dengan hal itu.

Baca juga :

Versi Sundanya 

Untuk selanjutnya atau pertemuan yang akan datang, kita tinggal menyimpulkan keseluruhan dari hukum akal mulai dari wajib ‘aqli, mustahil ‘aqli dan jaiz ‘aqli. an untuk pertemuan kali ini saya cukupkan sampai disini dulu.

Walloohu a’lam……..