HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA bag.1

Hukum akal

Alhamdulillaah kita masih bisa dipertemuan kembali oleh Alloh subhaanahu wa ta’alaa, masih dikaruniai nikmat sehat dan sempat, masih diberi anugrah yang ta ternilai harganya yang mana nikmat ini tiada satupun makhluk didunia ini yang memilikinya terkecuali Manusia, nikmat apakah itu..? Jawabannya adalah Akal sehat, serta adanya hukum akal.

Baca juga : Versi Bahasa Sundanya

Hukum akal
Peringatan

Karena akal sehat lah yang akan menunjang nilai dan derajat pada diri kita, dengan demikian mari kita manfaatkan kesehatan akal kita sebagai ungkapan rasa syukur pada Yang Maha Agung. Salah satu upaya untuk memaksimalkannya adalah dengan cara mengetahui suatu Hukum yang berkaitan dengan Akal atau disebut juga denga HUKUM AKAL.
Adapun yang akan kita gali saat ini adalah tentang :

  • Pengertian Hukum akal
  • Bagian – bagian dari hukum akal

Sekarang mari kita melangkah dengan materi pertama yang akan kita ulas adalah Pengertian hukum akal.

Pengertian hukum akal

Untuk pengertian hukum akal adalah sebagai berikut :

وَالْحُكْمُ الْعَقْلِيُّ هُوَ اِثْبَاتُ اَمْرٍ لِأَمْرٍ اَوْ نَفْيُهُ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُفٍ عَلٰي تِكْرَارٍ وَلاَ وَضْعِ وَاضِعٍ 

Artinya : Pengertian hukum akal adalah menetapkan suatu perkara, kepada perkara yang lainnya. Atau tidak menetapkannya, serta tidak menunggu atau didahului adanya beberapa kejadian dan tidak menunggu suatu pengaturan dari yang mengaturnya.
Nah didalam hukum akal itu keberadaannya beda dengan hukum Syara’ dan hukum adat. Sebab kalau hukum syara’ itu menunggu pada aturan yang mengaturnya.

Dan juga sangat beda dengan hukum Adat sebab kalau hukum adat itu identik dengan menunggu akan adanya beberapa kejadian terlebih dahulu, setelah ada kejadian berkali – kali barulah terbentuklah suatu hukum.

Dan kalau hukum akal itu tidak ditangguhkan pada apapun alias ada dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, maka supaya fungsi akal sehat kita lebih maksimal, setelah ini kita akan mulai dengan ulasan bagian – bagian dari hukum akal. Karena ini sangat penting untuk kita ketahui dan merupakan bagian penting dalam menggali Ilmu tauhid atau Ushuluddin.

Bagian – bagian hukum akal

Adapun bagian – bagian yang sangat lekat dengan hukum akal adalah sebagai berikut :

  1. Wujub
  2. Istihaalah
  3. Jawaz

Maka dikala hukum diatas itu sudah selaras dengan Mahkum Bih, maka yang tadinya Wujub menjadi “Wajib” Istihalah menjadi “Mustahil” dan Jawaz menjadi Jaiz atau wenang. Seteh kita mengetahui apa saja yang menjadi bagian – bagian dari hukum akal yaitu yang tiga poin diatas tadi, maka sekarang kita tinggal mencari tau tentang pengertian – pengertian dari :

  • Wajib ‘Aqli,
  • Mustahil ‘Aqli,
  • dan Jaiz ‘Aqli.

Karena dari tiap – tiap bagian itu mempunyai pengertian Masing – masing, jadi intinya supaya kita nambah wawasan sebab kalau membawa Ilmu itu tidak ribet seperti membawa harta benda. Sekarang mari kita ulas apa pengertian Wajib ‘Aqli.

Pengertian Wajib ‘Aqli

Sebelum beranjak ke bahasan yang lain, Ulasan kita yang pertama adalah kita akan mencoba mengungkapakan sebuah Ta’rif atau pengertian dari Wajib ‘Aqli ( wajib menurut Akal), dan pengertiannya adalah sebagai berikut :

فَالْوَاجِبُ مَالَا يُتَصَوَّرُ فِى الْعَقْلِ عَدَمُهُ  

Artinya : Yang dinamakan wajib menurut akal itu ialah suatu perkara yang tidak dapat dimengerti oleh akal sehat ketiadaanya. (Jadi perkara itu bisanya dimengertinya harus selalu ada).
Dengan demikian, kita bisa mengartikan bahwa yang dinamakan wajib menurut akal itu ialah ;

Sesuatu yang Sah keberadaannya dan tidak Sah ketiadaannya. Yakni Akal tidak membenarkan ketiadaannya.

Sekarang kita ambil sedikit contoh saja biar gak terlalu sulit untuk difahami, contohnya seperti ini ;
Bersemayamnya Jirim pada ruangan secukupnya.
Nah yang demikian itu, itu yang dinamakan Wajib menurut akal, karena kita tidak bakal mengerti seandainya suatu jirim/ benda tidak mempunyai sebuah tempat secukupnya. Dan tidak akan melebihi atau mengurangi dari tempat tersebut.
Demikianlah ulasan ringkas tentang pengertian akal sehat tentunya, tapi belum selesai sampai disini lho….. Karena masih ada yang belum kita ketahui disini, yang belum tertuang disini adalah Bagian wajib menurut Akal .

 

Wajib ‘Aqli (wajib menurut akal)

Adapun yang menjadi bagian wajib menurut akal ( wajib ‘akli ), itu terbagi lagi menjadi Dua bagian, yaitu :

  1. Wajib ‘aqli Dloruri ( ضروري )
  2. Wajib ‘aqli Nadhori ( نظرى )

Demikian juga dalam perkara yang Mustahil dan yang Jaiz pun sama – sama terbagi menjadi dua seperti diatas yaitu terbagi pada ضرور dan نظرى.

Berhubung di atas tadi sudah dituangkan bahwa dalam dalam bagian-bagian akal itu terbagi menjadi dua, Nah sekarang tinggal kita cari tau lagi pengertiannya satu persatu.

Wajib ‘Aqli Dloruri ( ضروري )

Untuk pengertian atau Ta’rif dari Wajib ‘Aqli dloruri adalah sebagai berikut :

اَلضَّرُوْرِيْ هُوَ مَالاَ يَحْتَاجُ اِلٰى نَظْرٍ وَاسْتِدْلاَلٍ

Artinya : Dloruri itu ialah, setiap perkara yang diketahuinya itu tidak membutuhkan suatu pemikiran, atau mencari-cari sebuah Dalil atau sebuah alasan.

Yakni setiap perkara yang secara langsung bisa dimengerti seketika. Jadi yang dinamakan dengan Dloruri itu suatu perkara yang langsung bisa dimengerti dan diterima oleh akal sehat.

Wajib ‘Aqli Nadhori

Beda dengan Nadhori, karena kalau Nadhori itu tidak bisa dimengerti secara spontan, tapi bisanya dimengerti setelah adanya sebuah pemikiran. Sekarang mari kita sambungkan antara ucapan Dloruri dan Nadhori pada Wajib ‘Aqli, menjadi :

  • Wajib ‘Aqli Dloruri dan
  • Wajib ‘Aqli Nadhori.

Nah sekarang kita gabungkan makna dari keduannya juga maka begini hasilnya :

  • Wajib ‘Aqli Dloruri adalah setiap perkara yang bisa dimengerti oleh akal keberadaannya dan tidaklah dimengerti oleh akal ketiadaannya serta dimengertinya itu secara langsung atau sepontanitas tanpa adanya pemikiran dan tidak memerlukan sebuah alasan (dalil).

Nah supaya kita tidak terlalu sulit untuk memahami, sekarang kita ambil contoh saja dengan sebuah ucapan kalimat ” Jirim atau Jisim Mempunyai Tempat ” Nah kalimat yang demikian itu disebut dengan istilah Wajib ‘Aqli Dloruri karena secara spontanitas sudah bisa difahami.

  • Wajib ‘aqli Nadhori adalah setiap perkara yang bisa dimengerti oleh akal akan keberadaanya dan tidak bisa dimengerti ketiadaannya, tapi bisa dimengertinya tidak secara langsung (spontanitas) sebab membutuhkan dulu suatu pemikiran bahkan dalil – dalil serta sebuah alasan.

Supaya gampang dimengerti, kita ambil contoh begini saja : ” Delapan itu adalah Dua per Tiga nya (⅔) dari Dua belas, atau seperti perkataan begini ” Alloh itu disifati oleh Sifat Qudrat, Iradat, ‘Ilmu, Hayat, dan lain sebagainya.

Nah kalimat diatas menjadi contoh pada Wajib ‘Aqli Nadhori, sebab kalimat diatas itu tidak bisa langsung dimengerti karena memerlukan sebuah pemikiran terlebih dahulu untuk menjawabnya bahkan memerlukan dalil – dalil tertentu.

Untuk penjelasan dari masalah Dalil, insya Alloh akan kita temui ulasannya dalam Penjelasan tentang Sifat – sifat Alloh.

Tapi kalau untuk sekedar tau silahkan di lihat disini : Pengertian Dalil

Jika tadi yang kita baca adalah semua yang berkaitan dengan hukum yang Wajib menurut akal, maka tidaklah lengkap jika kita tidak mengetahui pula akan apa yang Mustahil.

 

Mustahil ‘Aqli (Mustahil menurut Akal)

Ulasan hukum yang selanjutnya adalah Mustahil ‘Aqli atau Mustahil menurut akal, tak beda dengan Wajib ‘Aqli bahwa dalam Mustahil ‘Aqli pun ada sebuah pengertian yang perlu kita ketahui dan kita ingat.

Apa pengertian ( Ta’rif ) dari Mustahil ‘Aqli.? Ta’rif Mustahil ‘Aqli adalah :

وَالْمُسْتَحِيْلُ مَا لاَيُتَصَوَّرُ فَىْ الْعَقْلِ وُجُوْدُهُ 

Artinya : Yang dinamakan dengan Mustahil menurut akal itu adalah setiap perkara yang tidak bisa dimengerti oleh akal.

Jadi bisa dimengertinya oleh akal itu harus selalu tidak ada, yakni yang disebut dengan Mustahil menurut akal itu, adalah suatu perkara yang Sah tiadanya dan tidak Sah keberadaannya.

Sekarang kita ambil contoh saja supaya tidak salah penempatannya, contohnya begini ; Ada Jirim tapi tidak ngalap (memiliki) tempat, atau seperti ucapan ; Ada Manusia tapi tidak mempunyai warna, atau ada Manusia tidak bergerak dan tidak diam.

Nah dari contoh diatas itu kita bisa ngambil kesimpulan, bahwa yang demikian itu adalah suatu hal.yang Mustahil. Sebab tidak dibenarkan oleh akal keberadaannyan atau Buktinya, sebab tiap – tiap Jirim atau Manusia dan lain sebagainya sudah pasti mempunyai tempat, mempunyai Warna, dan sudah pasti mempunyai salah satu sifat diatas yaitu ( bergerak dan diam ).

Hukum akal
Ingat…!!!

 

Pembagian Mustahil ‘Aqli

 

 

2 tanggapan pada “HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA bag.1”

  1. Pingback: SEBUAH KESIMPULAN DARI HUKUM AKAL DAN BAGIANNYA » ES CINCAU BANG THOYYIB

  2. Pingback: 4 POIN RAHASIA DIBALIK HUBUNGAN HUKUM ADAT DAN AQIDAH » ES CINCAU BANG THOYYIB