LANJUTAN MABADI ILMU TAUHID

Selamat berjumpa kembali Saudaraku, tak terasa langkah kita sudah semakin jauh ya….? Berhubung dalam bahasan MABADI ILMU TAUHID belum terselesaikan, karena keburu pusing kepalanya. Maka sekarang mari kita mencoba untuk mengutip Lanjutan Mabadi Ilmu Tauhid.

Dalam lanjutan Mabadi ilmu tauhid yang belum kelar itu masih ada Lima poin, jadi sekarang kita hanya akan melanjutkan poin berikutnya, yaitu poin yang ke Enamnya.

Dan poin yang ke Enam itu adalah :

6. Wadli’ Ilmu Tauhid

 

Yang disebut dengan Wadli’nya ilmu Tauhid itu adalah Orang yang pertama menyusunkan ilmu tauhid, perlu kita ketahui bahwa orang yang pertama nyusun Ilmu tauhid itu ialah :

وَوَاضِعُهُ اَبُو الْحَسَنْ اَلْاَشْعَرِيُّ وَمُتَابِعُهُ وَاَبُو مَنْصُوْر اَلْمَاتُرِدِيُّ وَمُتَابِعُهُ


WA WADLI’UHUU ABUL-HASAN AL-ASY’ARIYYU WA MUTAABI’UHUU WA ABU MANSHUR AL-MAATURIDIYYU WA MUTAABI’UHUU.

Artinya : ” Orang pertama yang menyusunkan ilmu ketauhidan ialah ; Imam Abul Hasan al-Asy’ariy beserta pengikut-pengikutnya dan juga Imam Abul Manshur al-Maturidiy beserta pengikut-pengikutnya”.

Namun sejatinya Ilmu Tauhid itu sudah ada sejak zaman Nabi Adam ‘alayhis salam sampai pada zaman Kangjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alayhi wasallam. Karena semua para Rasul itu mendakwahkan Tauhid pada umat-umatnya, bahkan diutusnya pun diperintah supaya mengajak Tauhid.

Baca jugaAwwaluddin Ma’rifatulloh

Namun berhubung Imam Abul Hasan al-Asy’ariy dan Abul Manshur al-Maturidiy sebagai Pelopor penyusun yang paling Mashur didalam membukukan (menyusun) ilmu ini, serta menyematkan Dalil-dalilnya yang bertujuan untuk menentang (menolak) pada Aqidah-aqidah yang Bathil.

Lanjutan mabadi ilmu tauhid

Dengan demikian maka para Beliau yang paling tersohor dalam mengatur dan menyusunnya.

Tak lepas dari itu, mari kita simak biografi singkat tentang Beliau – beliau itu :

  • Abul Hasan al-Asy’ariy, lahir tahun 260.H di Bashrah (Iraq) dan wafatnya tahun 324.H.

  • Abul Manshur al-Maturidiy, lahir di Desa Maturid Samarqandiy. Wafat tahun 333.H. Adapun yang menjadi penerus beliau sangatlah banyak, bahkan sampai pada kita saat ini.

Dari sebagian pengikut Abul Manshur al-Maguridiy itu ialah :

  1. Abu Bakar al-Qoffaal wafat pada tahun 365.H.
  2. Imam Abu Ishaq al-Asfaroyin, wafat pada tahun 411.H.
  3. Imam Hafidh al-Bayhaqqi, wafat pada tahun 458.H.
  4. Al-Imamul Haromayn al-Juwayni wafat pada tahun 460.H.
  5. Al-Imam al-Qasim al-Qusyayri, wafat pada tahun 465.H.
  6. Al-Imaamul Baqilaanii, wafat pada tahun 403.H.
  7. Al-Imam al-Ghazali, wafat pada tahun 505.H.
  8. Al-Imam Fakhruddin ar-Razii, wafat pada tahun 606.H.
  9. Al-Imam ‘Izzuddiin bin Abdus Salam, wafat pada tahun 660.H.

Beliau semua adalah generasi penerus dari Abul Hasan al-Asy’ariy, dalam memperjuangkan faham Ahlus sunnah wal-Jama’ah.

Dan seiring waktu berjalan, generasi-generasi penerus itu terus bermunculan yang siap pasang jiwa raga demi tegaknya Ahlus sunnah wal jama’ah. Karena saking banyaknya generasi penerus itu, maka disini hanya akan dituangkan yang dianggap paling masyhurnya saja diantaranya ialah :

  1. Asy-Syekh Sanusi pengarang kitab As-Sanusiyyah dan kitab-kitab yang lainnya.
  2. Asy-Syaikhul Islam Syekh ‘Abdulloh asy-syarqawwi, yang wafatnya pada tahun 1227.H. Yaitu pengarang kitab yang Masyhur yaitu kitab ASy- SYARQAWWI.
  3. Asy-Syekh Ibrahim al-Bajuriy, yang wafat pada tahun 1272.H. Beliau ini adalah pengarang Syarah kitab As-sanusiyyah, kitab Tahqiiqul Maqom, Syarah kitab Kifayatul ‘awaam, kitab Tuhfatul Murid, Syarah Jawhar Tauhid dan lain sebagainya.
  4. Al-‘Alaamah Asy-Syekh Muhammad An-Nawawi Banten, Ulama besar Indonesia lho…. Beliau wafat pada tahun 1315.H. Karya besarnya adalah Beliau pengarah Syarah Kitab Tijan ad-daruriy, Syarah kitab ad-Durarul Fariid, dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lainnya serta banyak pula yang menjadi penerus perjuangannya.

 

7. Lanjutan mabadi ilmu tauhid (Ismuhu)

 

Yang dimaksud dengan Ismuhu itu adalah Nama dari Ilmu itu, dan disebut juga dengan Fan (cabang). Adapun nama dari bagian atau cabang ilmu yang sedang kita bahas ini sangat banyak, bahkan sampai ada delapan nama, yang delapan itu adalah :

  1. Ilmu Ushuluddiin.
  2. Ilmu Tauhid.
  3. Ilmu Kalam.
  4. Ilmu ‘Aqoid.
  5. Ilmu Sifat Dua puluh.
  6. Ilmu Ilahiyah.
  7. Ilmu Ma’rifat.
  8. Ilmu Hakikat.

Nah yang delapan Nama-nama ini, menunjukkan bahwa sangat Mulianya yang dikasih nama tersebut.

 

8. Istimdadnya ilmu Tauhid

 

Poin selanjutnya adalah sedikit ulasan untuk Istimdadnya Ilmu Tauhid, yang disebut dengan Istimdadnya ilmu tauhid adalah :

وَاِسْتِمْدَادُهُ مِنَ الْاَدِلَّةِ الْعَقْلِيَّةِ وَالنَّقْلِيَّةِ

Artinya: ” Nara sumber (bahan bahasan/sumber nya) ilmu Tauhid itu diambil dari Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shohih”.

Oleh karena itu kita tidak usah ragu lagi untuk mempelajari, memahami dan mengamalkannya karena semuanya jelas dan terjamin kebenarannya.

 

9. Hukmuhu

 

Setelah mengetahui nara sumber dari ilmu tauhid tersebut, maka dalam benak kita akan timbul pertanyaan. Apa sih hukumnya mempelajari ilmu Tauhid itu..???

Nah sebelum muncul pertanyaan tersebut, mari kita ungkapkan terlebih dahulu Hukumnya mempelajari Ilmu Tauhid, dengan sebuah keterangan dari para Ulama dibidangnya:

وَحُكْمُهُ اَلْوُجُوْبُ الْعَيْنِيُّ عَلٰى كُلِّ مُكَلَّفٍ مِنْ ذَكَرٍ وَاُنْثٰى 

WA HUKMUHU AL-WUJUUBU ‘ALAA KULLI MUKALLAFIN MIN DZAKARIN WA UNTSAA.

Artinya : ” Dan hukum Syara’nya mempelajari (menggali) serta memahami ilmu tauhid itu adalah Fardlu ‘Ain, yakni tidak pandang bulu bahwa wajib kepada setiap orang yang baligh dan berakal sehat, entah itu laki-laki maupun perempuan”.

Bahkan berdosa jika tidak mengetahuinya, dan juga jika tidak mengetahui akan ilmu tauhid maka dia masih dihukumi sebagai orang yang Kufur sehingga tidak Sah Shalatnya, puasanya, dan segala amal-amal ibadahnya kalau belum berTauhid, sehingga dia akal kekal jadi penghuni neraka ( Na’udzu billaahi min dzaalik ).

Maka dari itu didalam mempelajari Ilmu Tauhid harus didahulukan bagi orang yang sudah baligh dan berakal sehat, sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Setelah mempelajari ilmu Tauhid, lanjut dengan Ilmu Fiqih, dan terakhir Ilmu Tasawwuf.

Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa dalam mempelajari tiga Kategori ilmu diatas itu adalah Fardlu ‘Ain, (Harus lebih diprioritaskan).

Dalam poin ini kita akan mengetahui apa yang disebut dengan Mukallaf (مكلف ) .

Mukallaf

Yang disebut dengan itu adalah Orang yang sudah baligh serta berakal sehat dan juga sehat panca inderanya, Walaupun hanya hanya mata dan telinganya saja. Sehingga bisa dan mencermati apa yang disampaikan (didakwahkan) oleh Rosul atau orang yang menyampaikan Syari’at kepadanya.

Jadi tidak termasuk kedalam kategori Mukalaf jika dia itu Tuli, sakit jiwa (gila), orang buta serta tuli tapi dengan syarat buta dan tulinya itu sejak bahkan sebelum baligh.

Dan juga tidak termasuk kedalam kategori orang mukalaf jika dia itu ahli Fatrah ( Yang tidak terjangkau oleh syi’ar dakwahnya para utusan) walaupun mereka itu menyembah Berhala. Dengan mengacu pada Firman Alloh dalam surat : (al-Isro’ ayat 15 ) yang bunyinya :

وَمَا كُنَّ مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلاً

WAMAA KUNNA MU’ADZDZIBIINA HATTA NAB’ATSA ROSUULAN.

Artinya : ”  dan Kami tidak akan mengadzab pada suatu kaum sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” 

Bahkan Ibu Bapaknya Kangjeng Rosul ( Nabi Muhammad shollalloohu ‘alayhi wasallam )pun, termasuk pada golongan Ahli Fatrah. Dengan demikian, Beliau itu termasuk pada kategori golongan orang-orang yang selamat bahkan termasuk pada Ahli Islam, karena ada keterangan dalam sebuah Hadits bahwa : ” Setelah kangjeng Nabi diutus, terus Beliau memohon kepada Alloh supaya Orang tuanya dihidupkan kembali, lantas oleh  Alloh di hidupkan (karena itu bukan hal sulit bagi-Nya, apalagi yang memohon kekasih-Nya) terus Ibu Bapaknya dihidupkan dan Iman kepada Alloh. Setelah itu di matikan kembali. (ket. Hadits ini jika menurut Ahli dhohir, dikatakan lemah / dlo’if. Tapi kalau menurut Ahli Haqiqat Shohih, sebab ahli dhohir itu hanya sekedar meneliti dari sisi Rawinya, sedangkan kalau ahli haqiqat itu Mukasyafah (terbuka) disaat mukasyafah itulah mereka langsung bertatap muka dengan Rosululloh dan langsung dikonfirmasikan.

Jadi bagi kita, dengan alasan meng-agungkan kangjeng Rosul, kita harus meyaqini bahwa Ibu Bapaknya Kangjeng Rosul itu termasuk kedalam golongan orang-orang yang selamat. Entah itu memakai alasan bahwa Beliau-beliau itu termasuk kedalam Ahli Fatrah, atau dengan mengacu pada Hadits diatas.

 

10. Masalah -masalahnya Ilmu Tauhid

 

Poin terakhir yang akan kita ulas adalah yang jadi masalah – masalah dalam ilmu Tauhid. Apa saja masalah – masalah dalam ilmu tauhid itu??? Mari kita simak keterangan berikut :

وَمَسَائِلُهُ قَضَايَاهُ الْبَاحِثَةُ عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْجَائِزَاتِ وَالْمُسْتَحِيْلَاتِ

WA MASAA_ILUHU QODLOOYAAHUL-BAAHITSATU ‘ANIL-WAAJIBAATI WAL-JAAIZAATI WAL-MUSTAHIILAATI.

Artinya : ” Yang menjadi permasalah dalam Ilmu Tauhid itu mencakup Qadiyah-qadiyah yang membahas sifat – sifat yang Wajib, Mustahil, dan Jaiz bagi Alloh dan para Utusan-Nya”.

 

Kesimpulan

 

Sebelum melangkah pada bahasan pokok, kita dituntut untuk mengetahui terlebih dahulu rancangan yang akan kita bahas kedepan yaitu ilmu tauhid.

Dan dalam rancangan itu terkumpul dalam sebuah nadhom yang tertuang dalam postingan sebelumnya :

MABADI ILMU TAUHID

Isi dari nadhom itu adalah :

  1. Had
  2. Mawdlu’
  3. Tsamrah
  4. Fadlilah
  5. Nisbat
  6. Wadli’
  7. Ismuhu
  8. Istimdad
  9. Hukum syara’nya
  10. Masalahnya

Maka sekarang lengkaplah sudah ulasan kita kali ini, dan insya Alloh jika Saya diperkenankan masih hidup, dalam postingan yang akan Datang, kita akan mengulas sedikit bahasana tentang Ahlussunnah wal Jama’ah.

Wallohu a’lam..

Thoyyib Hidayatulloh

Setia pada proses
Taat pada tujuan

Mungkin Anda juga menyukai

Silahkan tinggalkan komentar walaupun Satu huruf

%d blogger menyukai ini: