LANJUTAN PENGENALAN HUKUM SYARA’

Bismillaahirrohmaanirrohiim…………. Sahabat Fillaah mari kita lanjutkan lagi bahasan MENGENALI DASAR-DASAR HUKUM SYARA’ yang sempet tertunda, karena kegagalan Fokus, dalam lanjutan pengenalan hukum syara‘ kita akan mencoba sedikit mengurai tentang Sunnah, Makruh dan Mubah.

Untuk menambah wawasan, silahkan dibaca juga :

Pengetahuan akan Peradaban Negara

Pada pertemuan kali ini kita Akan mencoba menggali sebuah pengetahuan tentang Nadbu (Sunnah). Mengulas sebuah pengertian dan sedikit contohnya.

Lanjutan pengenalan hukum syara‘ (Sunnah)

 

Dalam pembahasan hukum syara’ yang menjelaskan tentang Nadbu disini kita akan membuka tentang :

  • Pengertiannnya
  • Sedikit contohnya

Pengertian Nadbu

Sekarang mari kita ketahui yang bagaimana pengertian nadbu (sunnah) itu, pengertiannya adalah sebagai berikut :

اَلنَّدْبُ هُوَ كَلاَمُ اللّٰهِ تَعَالٰى اَلْمُتَعَلِّقُ بِطَلَبِ فِعْلِ الشَّيْئٍ طَلَبًا غَيْرَ جَازِمًا 

Artinya : ” Pengertian Nadbu itu adalah Kalam Alloh ta’ala yang sesuai akan perintah mengerjakan suatu perkara dengan perintah yang tidak diharuskan.”

Yang menjadi contoh dalam Bab ini adalah seperti Firman Alloh Ta’ala :

lanjutan pengenalan hukum syara

” WA MINAL-LAYLI FATAHAJJAD BIHII NAAFILATAN LAKA (Al-isro : 79)

Artinya : ” Artinya : Dan pada sebagian malam,sembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu,mudah mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”


Nah dalam ayat ini kita bisa mengetahui apa itu Nadbu karena disana menunjukkan akan di Sunnatkannya shalat Tahajud nisbat bagi kita, adapun Shalat tahajud iu kalau bagi kanjeng Nabi itu Wajib dan menjadi tamabahan shalat yang lima waktu.

Sekarang mari kita uraikan dari contoh diatas ;

  • Hukum Tahajud itu Nadbu (sunnat)
  • Pekerjaan disebut dengan Mandub.

Sekarang kita ulas lagi apa pengertian dari Mandub , pengertian Mandub adalah :

مَا يُثَابُ عَلٰى فِعْلِهٖ وَلاَ يُعَاقَبُ عَلٰى تَرْكِهٖ

Artinya : ” Setiap pekara yang menjadi sebuah ganjaran saat dikerjakannya dan tidak di siksa jika ditinggalkannya”.

Samapai disini ulasan tentang Nadbu berikut sedikit contohnya, untuk penjelasan lebih mendetil silahkan konfirmasi saja pada ulama ulama setempat ya Sahabatku. Supaya ilmunya tamabah berkah. Sekarang kita akan melanjutkan lagi bahasan kita pada poin selanjutnya yaitu Al-Karoohah (Makruh).

 

Lanjutan pengenalan hukum Syara‘ ( Al-Karohah/Makruh)

 

Poin selanjutnya dalam lanjutan pengenalan hukum Syara’ itu adalah Karohah (Makruh), dan dalam penjelasan karohah pun tak lepas dari sebuah pengertian atau Ta’rif. Pengertiandari karohah itu….???

Pengertian Karohah adalah :

اَلْكَرَاهَةُ هِيَ كَلًامُ اللّٰهِ تَعَالٰى اَلْمُتَعَلِّقُ بِطَلَبِ تَرْكِ الشَّيْئِ طَلَبًا غَيْرَ جَازِمًا

AL-KAROOHATU HIYA KALAAMULLOOHI TA’AALAA AL-MUTA’ALLIQU BITHOLABI TARKISY-SYAY_I THOOLABAN GHOYRO JAAZIMAN.

Artinya : “Yang dinamakan karohah itu adalah Kalamullohi Ta’ala yang berkaitan erat dengan perintah meninggalkan suatu perkara tapi dengan perintah yang tidak diharuskan”.

Dalam hal ini kita ambil contoh saja, contohnya seperti dibawah ini :

“Membaca Al-Qur’an disaat Ruku’ atau Sujud atau jualan kain kafan yang dikhususkan buat bungkus mayyit, dengan harapan banyak orang yang meninggal”.

 

Pengertian Makruh

 

Untuk pengertian atau Ta’rif dari Makruh itu sendiri adalah :

مَايُثَابُ عَلٰى تَرْكِهٖ وَلَايُعَاقَبُ عَلٰى فِعْلِهٖ

MAA YUTSAABU ‘ALAA TARKIHII WALAA YU’AaQOBU ‘ALAA FI’LIHII

Artinya : “Setiap perkara yang akan mendapatkan ganjaran jika ditinggalkan, dan tidak akan disiksa jika dikerjakannya”.

 

Lanjutan pengenalan hukum Syara‘ ( Al-Ibaahah/Mubah)

 

Yang terakhir dalam Bab ini adalah Al-Ibaahah, Apa yang disebut dengan Al-baahah atau Mubah..?? Al-ibahah adalah :

اَلْإِبَاحَةُ هِيَ كَلَامُ اللّٰهِ تَعَالٰى اَلْمُتَعَلِّقُ بِالتَّخْيِيْرِ بَيْنَ فِعْلِ الشَّيْئِ وَتَرْكِهِ

AL-IBAAHATU HIYA KALAAMULLOHI TA’ALAA AL-MUTA’ALLIQU BIT-TAKHYIIRI BAYNA FI’LISY-SYAY_I WA TARKIHII.

Artinya : ”  Yang disebut dengan Ibahah itu adalah Firman Alloh Ta’ala yang berkaitan dengan bolehnya memilih antara mengerjakan dan meninggalkan suatu perkara”.

Sekarang tinggal kita ambil contoh saja dengan sebuah Firman Alloh yang berbunyi :

كُلُوْا وَاشْرَبُ مِنْ رِزْقِ اللّٰهِ

Artinya : “Makan dan minumlah kalian semua dari rizqinya Alloh”. (QS. Al-Baqoroh : 60).

Nah hukumnya makan dan minum itu adalah Ibahah (Boleh) menurut hukum Syara’, sementara pekerjaan makan dan minum itu disebut dengan Mubah.

Dan untuk Pengertian dari Mubah itu sendiri adalah :

مَالَا يُثَابُ عَلٰى فِعْلِهٖ اَوْ تَرْكِهٖ

Artinya : ” Yang disebut dengan Mubah itu adalah Suatu perkara yang tidak mendapatkan ganjaran jika dikerjakan dan tidak mendapatkan siksaan jika ditinggalkannya”.

Jadi antara mengerjakan dan meninggalkannya sama-sama tak mendapatkan ganjaran dan siksaan. Tapi jika mengerjakan seperti contoh diatas dilandasi dengan niyat supaya kuat untuk Ibadah, maka pekerjaan makan dan minumnya akan dikasih nilai ibadah dan akan mendapatkan ganjaran tersendiri.

Pengertian ahlus sunnah wal jama'ah

Dahulukan Niyat sebeleum amal

Thoyyib Hidayatulloh

Setia pada proses
Taat pada tujuan

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. 19737699 berkata:

    luar biasa………lanjutkan !

  1. 31 Agustus 2017

    […] 3. Pengertian Nadzbu (Sunnah) […]

Silahkan tinggalkan komentar walaupun Satu huruf

%d blogger menyukai ini: