MENGOLAH RASA DALAM MENGGAPAI CINTA YANG MAHA KUASA

Dikala orang – orang berlomba – lomba supaya bisa menggapai Haqiqat cinta-Nya yang maha kuasa, dengan banyak cara yang dilakukan sampai – sampai jalan yang salahpun ditempuhnya. Mengapa mereka menempuh jalan yang salah…? Dikarenakan malasnya menggali dan mencari yang ahli dalam Mengolah Rasa dalam menggapai cinta yang maha kuasa.

Dan yang menjadi trend saat ini, memilih yang serba instant, makanya saat mengolah rasa dalam menggapai cinta Yang Maha Kuasa pun pake yang instant pula, ujung – ujungnya Cintanya pun hanya seketika, sehingga tak ada bekas sedikitpun yang tertanam dalam jiwanya.

Malah ngelantur nie bahasan……

Mari kita kembali ke topik diatas, yaitu mengolah rasa dalam menggapai cinta Yang Maha Kuasa. Kenapa bahasan kali ini dikasih topik demikian..?

Karena yang akan kita bahas saat ini adalah mengulas sedikit tentang Rasa karena kalo tanpa rasa, semuanya hambar dan tiada guna.

Dan yang akan di ulas disini adalah Rasa dalam beribadah supaya ibadah kita lebih gereget dan lebih sempurna.

Bahasan apa sih yang bersangkutan dengan Rasa dalam ibadah…? Bahasan tentang rasa dalam ibadah adalah Ihsan. (Semoga pembaca yang bernama Ihsan sesuai dengan makna dari kata Ihsan menurut keterangan yang ada).

Emang apa sih pengertian Ihsan…??  Pengertian Ihsan adalah :

اَلْإِحْسَانُ هُوَ اَنْ تَعْبُدَ رَبَّكَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَّمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya : “Yang dinamakan Ihsan itu adalah : Ibadah (Menyembah dan men-Tauhid-kan) Engkau kepada Alloh seolah – olah engkau melihat-Nya. Seandainya engkau tidak bisa dengan cara melihat-Nya, maka perbaiki (sempurnakanlah) amal Ibadahmu sebab Alloh itu Maha Tau segala apa tentang-mu”.

Dengan demikian, kita harus mempunyai perasaan selalu dilihat oleh Alloh.

Adapun lafazh yang pertama yaitu :

كَأَنَّكَ تَرَاهُ

 itu meng-Isyaratkan pada Maqom Musyahadah, yaitu Haqqul Yaqiin yang telah kita bahas dalam MARTABAT IMAN karena Manusia yang hatinya melihat Alloh itu, sudah dipastikan ke-khusyu-annya, selalu Ikhlas dalam segala perbuatannya, serta merasa sangat malu oleh-Nya sehingga tidak ada celah untuk berpaling dari-Nya. Kalau yang demikian itu termasuk pada  Maqom Shiddiqiin.MENGOLAH RASA DALAM MENGGAPAI CINTA YANG MAHA KUASA

Adapun yang tertuang dalam kalimat yang kedua yaitu :

فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Dalam kalimat ini tertuang makna yang meng-Isyaratkan pada IMAN ‘IYAN yang disebut juga denga Maqom Muroqobah.

Yang disebut Muroqobah itu ada Dua puluh macem, tapi disini hanya akan di ulas sebagian kecilnya saja (sekedar melengkapi bahasan).

Sebab kalau dibahas secara mendetil saya belum mempunyai kitab buat rujukannya, tapi seandainya ingin tau lebih jauh lagi, silahkan cari saja kitab yang berjudul ” ‘UMDATUS SAALIK” karangan Syekh MUSHLIH al- Muroqiy dari mulai Halaman : 86 sampai Halaman : 141. Disana dijelaskan secara rinci satu persatu.

Muroqobah

 

Muroqobah itu adalah rasa dimana seorang hamba melihat Alloh Ta’ala.

Sedangkan yang konsisten terhadap ilmu itu adalah yang mengawasi (menjaga merasa dirinya selalu dan selalu diawasi, sehingga membentuk suatu kewaspadaan terhadap apa yang disyariatkan oleh Alloh) dan inilah merupakan suatu dasar dari tiap – tiap kebaikan.

Seseorang tidak akan sampai pada Maqom Muroqobah, terkecuali setelah dapat menyelesaikan pengawasan pada dirinya sendiri.

Maka jika orang yang selalu mengawasi dirinya sendiri terhadap segala perbuatan yang telah lalu, dan memperbaiki keadaan sekarang yang sedang dijalani, maka dengan demikian secara Allohmatis dirinya akan selalu dijalan yang benar.

Lalu dia mengadakan komunikasi dengan Alloh Ta’ala dengan cara menjaga hati, memelihara nafas, bahkan memeliharanya dalam segala hal, maka dia akan mengetahui dengan mata bathinnya bahwa Alloh adalah Dzat Yang Maha Pengawas dan Dzat yang Maha Dekat dengan hatinya.

Orang yang seperti inilah yang telah benar – benar yaqin bahwa Alloh melihat perbuatannya, mendengar ucapannya dan mengetahui gerak hatinya.

Yang dimaksud dengan Muroqobah adalah :

keabadian memandang dengan hati kepada Alloh yang diposisikan sebagai Dzat yang selalu mengawasi manusia dalam segala sikap ;

baik lahir maupun bathin, entah itu yang tampak ataupun tersembunyi.

Karena itu Syekh Al-Jariri berpendapat, “Barang siapa yang tidak memperkuat Taqwa dan pengawasan antara dirinya dengan Alloh Ta’ala, maka dia tidak akan sampai pada Maqom Mukasyafah( terbukanya tabir ghaib) dan Musyahadah (persaksian dengan-Nya).

Dalam suatu keterangan disebutkan, “ Disuatu ketika Malaikat Jibril mendatangi Rosululloh, dan menjelma sebagai seorang laki – laki, dan disana terjadi dialog atau tanya jawab :

Wahai Muhammad, apa makna Iman? Tanya Jibril.; Rosululloh menjawab :

” Sesungguhnya Iman adalah beriman kepada Alloh Ta’ala, Beriman kepada para Malaikat-Nya, Beriman kepada kitab – kitab-Nya, Beriman kepada para Utusan-Nya, Beriman kepada Taqdir-Nya baik maupun buruk, Serta manis maupun pahit. Demikian jawaban Kangjeng Rosul.

“Lantas Jibril membenarkannya”, Engkau benar wahai Muhammad.

Saat dialog itu, tentu saja para sahabat yang kebetulan berada didekat Rosululloh merasa heran. Bagaimana mungkin orang yang bertanya justru membenarkan jawabannya sendiri.

Setelah diam sejenak, Jibril berkata kembali ; Berilah aku penjelasan tentang Islam..!!

Maka Rosululloh Menjelaskan,

Islam ialah Menegkkan shalat,Memberikan zakat,Berpuasa dibulan Ramadhan,Dan berhaji ke Baytulloh”.

Engkau benar wahai Muhammad, ujar Jibril. Lalu Jibril bertanya lagi ; Apakah yang dimaksud Ihsan..?

Maka Rosululloh pun menjawab ; ” Ihsan adalah beribadah kepada Alloh Ta’ala, Seakan- akan engaku melihat-Nya, jika engkau tidak dapat Melihat-Nya, maka yaqinlah bahwa Dia melihatmu”.

Lalu Jibril berujar Engaku benar wahai Rosululloh, Dan setelah itu Jibril pergi.

Mengenai jawaban Rosululloh sholallohu ‘alayhi wasallam tentang Ihsan,

Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka yaqinlah Dia (Alloh) senantiasa melihatmu.

Ini merupakan isyarat tentang Muroqobah.

Sebagian Ulama salaf mengatakan demikian :

“Barang siapa menjaga Alloh subhaanahu wata’ala di dalam hatinya, maka Alloh Ta’ala akan selalu menjaga seluruh anggota tubuhnya”.

Untuk ulasan tentang mengolah rasa dicukupkan sekian saja, karena kalau secara rinci serinci – rincinya gak bisa dengan media seperti ini, karena ada konsekwensi yang harus dilaluinya. Maka dari itu dengan adanya ulasan ini semoga bisa nambah sedikit pengetahuan bagi kita semua.

Aamiin….

والله اعلم

Thoyyib Hidayatulloh

Setia pada proses
Taat pada tujuan

Mungkin Anda juga menyukai

Silahkan tinggalkan komentar walaupun Satu huruf

%d blogger menyukai ini: